Kamis, 09 Oktober 2014

CINTA BERSUJUD DI MIHRAB TAAT



Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.
            Julaibib, nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana ibunya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.
            Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!
            Demikianlah Julaibib.
            Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.
            Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, Apakah kalian kehilangan  seseorang?
Tidak Ya Rasulallah!, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
Apakah kalian kehilangan seseorang?, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
Tidak Ya Rasullallah! Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya. Tetapi aku kehilangan Julaibib, kata beliau.
Para shahabat tersadar.
Carilah Julaibib!
            Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.
            Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.
            Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.
Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu???
                                                Sepenuh Cinta,
                                      Salim A. Fillah

10 KARAKTER MUSLIM




1. Salimul Aqidah
(Aqidah yang Bersih)
Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT sehingga tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya serta menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah SWT.
“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS. 6:162)
Beberapa contoh dari penerapan Salimul Aqidah, yaitu:
· Mengesakan Allah swt dalam Rububiah dan Uluhiah;
· Tidak mengedepankan makhluq atas Khaliq;
· Berteman dengan orang-orang shalih dan meneladaninya;
· Merasakan adanya para malaikat mulia yang mencatat amalnya;
2. Shahihul Ibadah
(Ibadah yang Benar)
Ibadah yang benar merupakan ibadah yang dilakukan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
 “Shalatlah kamu sebagimana kamu melihat aku shalat”
Beberapa aplikasi dalam kehidupan :
· Khusyu’ dalam shalat & saat membaca Al Qur’an;
· Bersedekah;
· Banyak dzikir kepada Allah swt sembari menghafalkan bacaan ringan;
· Selalu memperbaharui niat dan meluruskannya;
· Senantiasa bertafakkur;
3. Matinul Khuluq (Akhlaq Mulia)
Matinul Khuluq, akhlak yang kokoh/mulia. Berlaku bagi setiap muslim baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Oleh karena itu, Rasulullah saw diutus oleh Allah untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkannya kepada semua umatnya.
Aplikasi yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
· Tidak ‘inad (membangkang);
· Sedikit bercanda;
· Tidak berbisik tentang sesuatu yang bathil;
· Tidak hiqd (menyimpan kemarahan);
· Tidak hasad;
· Memiliki rasa malu untuk berbuat kesalahan;
· Berani;
· Menjenguk orang sakit;
· Menyambung persaudaraan (Shilatur-Rahim);
· Memuliakan tamu;
· Menjawab salam
4. Qowiyyul Jismi
(Kekuatan Fisik)
Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat . Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah” (HR. Muslim)
Aplikasi yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
· Mengatur waktu-waktu makan;
·    Tidak berlebihan dalam mengkonsumsi yang berlemak, gula, dan bergaram;
·   Selektif dalam memilih produk makanan.
 5. Mutsaqqoful Fikri
(Berpikir Cerdas)
Didalam Islam tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya, seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. “Katakanlah: samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran” (QS. 39:9)
6. Mujahadatul Linafsihi
(Berjuang Melawan Hawa Nafsu)
Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Tidak beragmana seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
Aplikasi yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
· Selalu menyertakan niat jihad;
· Menjadikan dirinya bersama orang-orang baik;
· Memakan apa yang disuguhkan dengan penuh keridhaan;
· Menyesuaikan perbuatan dengan ucapannya;
7. Harishun ‘ala Waqtihi
(Pandai Menjaga Waktu)
Setiap muslim sangat dituntut untuk mengatur waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara  sebelum dating lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Teratur dalam suatu Urusan)
Teratur dalam suatu urusan. Dengan kata lain, suatu urusan baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik dan professional. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasis ilmu pengetahuan.
9. Qodirun ‘alal Kasbi (Mandiri)
Dalam mencapai kemandirian, seorang muslim sangat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau keterampilan.
10. Naafi’un Lighairihi
(Bermanfaat bagi Orang Lain)
Rasulullah saw bersabda yang artinya : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir). Dari hadits tersebut maka jelaslah bahwa setiap muslim hendaknya senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sekitarnya dimanapun ia berada. Dengan begitu, seorang muslim mampu mengambil peran yang baik dalam lingkungannya serta keberadaannya mampu menggenapkan dan ketidakberadaannya tidak mengganjilkan