Minggu, 16 Maret 2014

KISAH HIKMAH DI BALIK SEMUA MUSIBAH



Di antara bani Israil terdapat keluarga yang tinggal di perkemahan dan hidup di gurun. Mereka hidup dengan serba sederhana. Mereka juga memiliki beberapa ekor domba, seekor ayam jago, seekor keledai dan seekor anjing
            Ayam jago berguna untuk membangunkan mereka di waktu shalat. Keledai berguna untuk mengangkut sarana dan fasilitas hidup mereka seperti membawakan air dari tempat yang jauh. Anjing berguna untuk menjaga mereka di malam hari dari kejahatan pencuri.
            Suatu hari seekor rubah datang dan memangsa ayam jago mereka. Anggota keluarga pun sedih dan gelisah. Namun, sesepuh mereka orang yang saleh berkata, “Insya Allah, semuanya akan menjadi baik.” Selang beberapa hari, Anjing mereka mati, semua anggota keluarga sedih. Akan tetapi, sesepuh keluarga itu kembali berkata, “Insya Allah, semuanya akan menjadi baik.” Tak lama berselang, rubah kembali memangsa keledai mereka. semua anggota keluarga sedih. Akan tetapi, sesepuh keluarga itu kembali berkata, “Insya Allah, semuanya akan menjadi baik.”
            Di hari-hari itu pula, suatu pagi ketika bangun dari tidur, mereka melihat seluruh kemah di sekitar mereka telah musnah dan hancur. Pencuri telah menguras habis seluruh harta benda penghuni kemah lain dan menawan serta membunuh mereka. Di tengah gurun itu hanya mereka saja yang selamat.
            Orang saleh itu berkata, “Rahasia mengapa kita tetap hidup adalah bahwa kemah-kemah lain memiliki anjing, ayam jago dan keledai. Lantaran suara binatang-binatang itu pencuri pun mendatangi mereka. Sebaliknya, lantaran kita tidak memiliki ayam, anjing dan keledai, maka keberadaan kita tidak terpantau. Jadi, kebaikan bagi kita di balik matinya anjing, ayam, dan keledai milik kita adalah keselamatan bagi jiwa kita”
            Inilah buah yang dipetik oleh orang yang yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah.


SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI MUSIBAH



Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.
            Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)
            Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”
                        Ketahuilah, Allah tidak sesekali menimpakan ujian kecuali sesuai kemampuan hambaNya. “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan apa yang dia mampu.” (Al-Baqarah: 286). Allah juga berfirman, “Tiada satu musibah yang menimpa di bumi dan dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sungguh demikian itu mudah bagi Allah, supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang hilang darimu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. (Al-Hadid: 22-23)
            Nabi SAW bersabda dalam hadis qudsi: “Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala sejak awal tertimpa musibah maka Aku tidak rela memberi pahala untukmu selain Syurga.” (Hasan. Riwayat Ibnu Majah)
Jika dibanding ujian yang kita hadapi, tidaklah ia lebih berat dari apa yang menimpa umat Islam terdahulu, yang digergaji kepalanya hingga terbelah dua, disikat badannya dengan sikat besi sehingga nampak tulangnya, Hendaklah kita bersyukur selama mana ujian itu tidak menimpa agama dan tidak membuat kita berburuk sangka kepada ALLAH. Sabda Rasulullah, “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.” (Riwayat Muslim)


MAKNA MUSIBAH DALAM ISLAM



Sebagai hamba Allâh Ta’ala, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.trans
            Sebagian ulama mendefinisikan musibah dengan makna: "segala apa yang dibenci yang terjadi pada manusia" (kullu makruuhin yahullu bi al-insan) (Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasith, h. 527). Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan (Qs al-Anbiyâ’/21:35)
            Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”
Didalam Al-Qur’an juga dijelaskan bahwa ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah
Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, Ia tidak pernah menyerahkan apa – apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.
Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya, Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya
Musibah yang ditimpakan kepada umat manusia ada dua macam.
Pertama, musibah dunia
Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 155. “Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
Kedua, musibah akhirat
Musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.”


SALAM RSUA EDISI 9



Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu…
            Asyhadu alla illaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Segala puji milik Allah, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku mengEsakanNya dan tidak mempersekutukanNya. Kami memohon pertolonganNya dan mohon ampun kepadaNya. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ali sayyidina Muhammad. Rasa Syukur kepada Allah Subhanahuwata’ala semoga meridlai dan senantiasa menunjukkan jalan yang diridlaiNya. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.
            Maha Besar Allah atas segala kuasaNya. Belum lama kita mendengar kabar tentang meletusnya gunung Kelud di salah satu kota di Jawa Timur. Sungguh betapa kita sebagai manusia begitu kecil di hadapanNya. Dan kun fayakun, Allah mampu membuat segala sesuatu terjadi hanya dengan berkata ‘kun fayakun’
            Sebagai seorang mukmin hendaknya kita mampu merenungi apa yang terjadi di dunia ini baik ynag terjadi pada umat maupun secara pribadi. Dan hendaknya kita yakin akan takdir Allah, baik dan buruknya.
   Allah ta’ala berfirman:
 Tiada suatu bencanapun yang menimpa di    bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah  tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. al-Hadid: 22-23)
            Bukankah kita jadi mengetahui bahwa kita adalah hamba yang lemah dan tidak memiliki daya atau upaya, kecuali hanya dari Allah semata, maka bertawakal hanya kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal. Musibah juga bisa melatih kesabaran agar teguh di atas al-haq, bersabar dalam mentaati Allah, kita tidak akan dapat menjauhi kebatilan Alangkah indahnya kesabaran itu, dan kesabaran adalah bekal yang dapat mengantarkan ke surga yang penuh dengan keabadian. Wallahu a’lam bishshowab
Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu


Senin, 10 Maret 2014

Engkau Benar-benar Ayahku | Kisah Tobat si Penjahat



Tersebut nama Ali bin Baswad, seorang penjahat yang paling ditakuti.
Pada suatu malam, ada seorang ibu mengeluh dan kesal karena anaknya terus menerus menangis. Karena sudah putus asa melihat anaknya rewel terus, ditakut-takutinya anak itu.
"Diam! Kalau engkau tak mau diam, akan aku panggilkan Ali bin Baswad kemari," gertak ibunya.
Seketika itu juga, anaknya diam dari tangisnya.
Sementara itu, secara kebetulan, Ali bin Baswad tengah lewat di depan rumah si ibu itu dan sekaligus mendengar gertakan ibu anak itu.
"Celakalah aku. Demikian terkenalnya aku sebagai penjahat, hingga namaku digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil," guman Ali bin Baswad.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba saja badan Ali bin Baswad gemetar, tubuhnya terasa lemas karena tersentuh perasaannya. Seketika, luruhlah hatinya dan ingin bertobat malam itu juga. Maka, dibuanglah goloknya dan diurungkan niatnya untuk melakukan pekerjahat jahatnya.
Segera bergegas dia pulang ke rumahnya.
Ketika Ali bin Baswad mengetuk pintu rumah, anaknya yang masih kecil menyahut dari dalam.
"Siapa itu di luar?" tanya anaknya.
"Aku, ayahmu," jawab Ali.
"Engkau bukan ayahku. Suara ayahku tak selembut itu," sahut anaknya.
"Memang anakku, yang datang sekarang bukanlah ayahmu yang keluar tadi sore. Bukalah pintunya, nak," pinta Ali.
Anak Ali kemudian membukakan pintu dan ia sangat terkejut ketika melihat ayahnya tengah menundukkan kepala dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Anak itu kemudian merangkul ayahnya.
"Ada apa ayah?" tanya anaknya.
"Anakku, besok ikatlah leher ayahmu ini kemudian tuntun dan araklah berkeliling kampung. Katakan pada teman-temanmu, bila ingin mengetahui penjahat yang banyak dosanya, katakan ayahmu inilah orangnya. Tapi malam ini, orang yang jahat ini telah insyaf dan bertobat," kata Ali bin Baswad sambil menangis dan menciumi pipi anaknya.
Karena merasa terharu, anak itu pun ikut menangis.
Ia gembira karena ayahnya sekarang telah insyaf dan menyesali segala perbuatannya
."Engkau sekarang benar-benar ayahku," kata anak itu