Jumat, 23 Mei 2014

Kisah Pemuda yang Istiqomah Shalat Subuh



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Kisah ini diceritakan oleh Khalid al-Jubair seorang dokter konsultan penyakit jantung di Riyadh sebagai berikut :
Suatu hari, aku mendapat giliran jaga. Tiba-tiba aku dipanggil ke ruang gawat darurat, di sana ada seorang pemuda berusia 16 - 17 tahun sedang menghadapi 'sakaratul maut'.
Orang-orang yang datang bersamanya bercerita, "Dia sebelumnya sedang membaca Al-Qur'an di masjid menunggu iqamah shalat subuh. Ketika iqamah dikumandangkan, dia mengembalikan mushafnya ke tempat semula, lalu berdiri lurus dengan barisan. Tiab-tiba dia roboh pingsan dan kami membawanya ke sini.
Beberapa menit kemudian, aku kembali, aku melihat pemuda itu memegang tangan perawat, sedangkan perawat itu mendekatkan telinganya ke mulut sang pasien yang sedang berbisik kepadanya.
Beberapa saat kemudian pemuda itu melepaskan tangan sang perawat, kemudian mengucap, "Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah).
Dia berulang kali membacanya sampai dia meninggalkan dunia yang fana' ini dan perawat itu pun menangis.
Kami heran melihat dia menangis, karena ini bukan pertama kali dia melihat orang meninggal atau sekarat. Ketika dia agak tenang, kami bertanya, "Apa yang dibisikkan pemuda itu kepadamu dan kenapa kamu menangis..?"
Dia menjawab, "Dokter Khalid, ketika dia melihat Anda menyuruh saya untuk segera menanganinya serta Anda mondar-mandir, dia tahu bahwa Anda adalah orang yang bertanggung jawab merawatnya, lalu dia memanggil saya dan berbisik, 'Katakan kepada dokter jantung itu, janganlah dia menyusahkan diri sebab aku ini sudah mati. Demi Allah, aku sungguh melihat bidadari dan aku melihat tempatku di surga.' Kemudian dia melepaskan tangan saya."
Alhamdulillah, cerita ini dikutip dari buku : "Kisah-Kisah Penggugah Jiwa" oleh : Abdurrahman Bakar
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ..

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ



1.      Isra’ Mi’raj adalah perjalanan yang nyata, bukan perjalanan ruhani/mimpi atau khayalan.
2.      Isra’ Mi’raj adalah jamuan kemuliaan dari Allah, penghibur hati, dan pengganti dari apa yang dialami Rasulullah SAW ketika berada di Thaif yang mendapatkan penghinaan, penolakan dan pengusiran.
3.      Isra’ bukanlah peristiwa yang sederhana. Tetapi peristiwa yang menampakkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang paling besar.
4.      Peristiwa Isra’ Mi’raj membuktikan bahwa risalah yang dibawa oleh Rasulullah adalah bersifat universal.
5.      5.  Dalam Isra’ Mi’raj diturunkannya per      intah shalat wajib 5 kali dalam sehari. Disinilah puncak dari    seluruh perjalanan Rasulullah     shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi             Muhammad saw bersabda dalam              hadits-nya : “Sesungguhnya di dalam shalat (terdapat) obat             (penyembuh jiwa).” (HR. Ahmad            dari Abi Hurairah).

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kisah Isra’ Mi’raj



Berita-berita yang datang dalam kisah Isra’ Miraj seperti sampainya beliau ke Baitul Maqdis, kemudian berjumpa dengan para nabi dan shalat mengimami mereka, serta berita-berita lain yang terdapat dalam hadits- hadits yang shahih merupakan perkara ghaib.
Sikap ahlussunnah wal jama’ah terhadap kisah-kisah seperti ini harus mencakup kaedah berikut :
1. Menerima berita tersebut.
2. Mengimani tentang kebenaran berita tersebut.
3. Tidak menolak berita tersebut atau mengubah berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.
Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan berita yang datang terhadap seluruh perkara-perkara ghaib yang Allah Ta’ala kabarkan kepada kita atau dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
                Hendaknya kita meneladani sifat para sahabt radhiyallahu ‘anhum terhadap berita dari Allah dan rasul-Nya.
                Perhatikan bagaimana sikap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terhadap berita yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam. Beliau langsung membenarkan dan mempercayai berita tersebut. Beliau tidak banyak bertanya, meskipun peristiwa tersebut mustahil dilakukan dengan teknologi pada saat itu. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim terhadap setiap berita yang shahih dari Allah dan rasul-Nya.


Perjalanan ISRA' MI'RAJ



Selama perjalanan, banyak sekali hikmah dan keajaiban yang dilalui Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dilewatkan pada Thur Sina’, sebuah lembah di Syam, tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allâh Subhânahu wa Ta’âlâ, beliau pun shalat di tempat itu. Kemudian melihat Ifrit dari bangsa Jin yang mengejar beliau dengan semburan api, namun Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallampun dapat melaluinya. Perjalanan dilanjutkan kembali, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dikejutkan dengan bau wangi yang semerbak, itulah semerbak wangi yang terpancar dari kuburan Masyithah yang teguh mempertahankan aqidahnya melawan raja fir’aun. Ketika beliau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang memanggil beliau dari arah kanan: “Wahai Muhammad, aku meminta kepadamu agar kamu melihat aku”,tapi Rasulullah tidak memperdulikannya.. Kemudian Jibril menjelaskan bahwa itu adalah panggilan Yahudi, seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat beliau akan menjadi Yahudi. Begitu pula beliau mendapat seruan serupa dari sebelah kirinya, yang tidak lain adalah panggilan Nashrani, namun Nabi tidak menjawabnya. Selanjutnya, muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala perhiasan di tangannya dan seluruh tubuhnya, dia berkata: “Wahai Muhammad lihatlah kepadaku”, tapi Rasûlullâh tidak menoleh kepadanya, Jibril berkata:“Wahai Nabi, itu adalah dunia, seandainya anda menjawab panggilannya maka umatmu akan lebih memilih dunia daripada akhirat”. 
                Perjalanan isra’ pun berujung pada Masjidil Aqsha, perjalanan ini untuk kemudian Allâh dokumentasikan pada surah al-Isrâ’ [17]: 1.
                Setelah perjalanan isra’ ini, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersiap-siap melanjutkan perjalanan yang tak kalah menakjubkan dari perjalanan sebelumnya, yakni perjalanan untuk menghadap Allah SWT di Sidratul Muntaha. Perjalanan jauh menembus langit dan hanya dilakukan dalam waktu kurang dari semalam.


SALAM RSUA EDISI 14

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh…
                Alhamdulillahirabbil ‘alamim, Allah subhanahuwata’ala masih memberikan kita kesempatan untuk kembali berbagi. Rabb semesta alam yang Maha Menguasai , Maha Tinggi, dan Maha Besar. Shalawat serta salam kepada junjungan Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasaalam.              
                Isra’ mi’raj, satu peristiwa yang luar biasa. Allah abadikan dalam Al-Quran, di awal surat Al-Isra dan surat An-Najm. Terutama pada surat An-Najm, Allah menceritakan kejadian ini dengan lebih rinci.
“Apakah kamu (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm: 12 – 18)”
                Isra' adalah sebuah kejadian dimana Allah memperjalankan hamba-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di malam hari dari Al-Masjidil Haram yang berada di Makkah, menuju Al-Masjidil Aqsha di Palestina. Sedangkan Mi'raj itu, Allah yang maha kuasa memperjalankan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (naik) dari Al-­Masjidil Aqsha menuju Sidratal-Muntaha, yaitu tempat paling tinggi, yang di atasnya tidak ada sesuatu lagi, dan di dekatnya jannatul Ma'waa, taman tempat tinggal, surga yang paling indah. Disanalah Nabi berdialog dengan Allah Subhanahu wa ta’ala yang akhirnya mendapatkan perintah shalat lima waktu untuk seluruh umatnya.
                Sebagaimana karunia yang didapat oleh Nabi tersebut, kita sebagai umat yang beriman, dapat merasakan situasi berdialog dengan Allah melalui ibadah shalat kita. Dikatakan shalat sebagai mi'rajul mu'minin (Hadist Riwayat Bukhari) yakni Mi'raj orang yang beriman. Shalat, dilukiskan sebagai mi'raj seorang mukmin.
Sebagai orang yang senantiasa melaksanakan ibadah shalat, sudahkah kita Mi'raj?
Wallahu a’lam bishshowab
Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sabtu, 10 Mei 2014

KISAH TANGAN YANG TAK AKAN DISENTUH API NERAKA

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta  Nabi dalam peperangan ini.
            Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
            Rasulullah pun bertanya, “kenapa tanganmu kasar sekali?”. Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah bau setiap hari, dan belahan itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk member nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.
            Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling  mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun menggenggam tanagn itu dan menciumnya seraya bersabda, “ Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, “inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya
            Rasulullah tidak pernah mencium tangan para pemimpin Quraisy, tangan pemimpin kabilah, raja, atau siapapun.
            Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu terkenal sebagai pekerja ynag giat dantangkas . Para sahabat kemudian berkata “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti yang dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fii Sabilillah), maka alangkah baiknya.”
            Mendengar hal itu Rasulullah pun menjawab, “ Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masihkecil, maka itu fii sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut, maka itu fii sabilillah; kalau ia nekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fii sabilillah” (HR Thabrani)