Minggu, 27 Juli 2014

RASULULLAH BERHARI RAYA



Dari Kitab “Durratun Nashihin (Mutiara Petuah Agama)” diceritakan riwayat Anas bin Malik ra, kisah yang terjadi di Madinah di zaman Rasulullah SAW, dimana pada suatu pagi di hari raya Iedul Fithri, Rasulullah SAW bersama keluarganya dan beberapa sahabatnya seperti biasanya mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan para muslimin dan muslimah, mukminin dan mukminah agar merasa bahagia di hari raya. Dan kebahagian itupun terpancar, terutama dari anak-anak.
            Namun, ditengah  keceriaan anak-anak yang berlarian kesana kemari dengan pakaian hari rayanya, Rasulullah SAW terpaku melihat seorang gadis kecil yang sedang duduk bersedih disebuah sudut. Ia memakai pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah using, menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Rasulullah pun bergegas menghampirinya dan meletakkan kedua tangannya dengan penuh kasih sayang diatas kepala gadis kecil itu. Rasulullah lalu bertanya dengan suara lembutnya: “Anakku, mengapa engkau menangis? Bukankah hari ini adalah hari raya?” Gadis kecil itu terkejut bukan kepalang. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita : “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Semua anak-anak bermain dengan riang gembiranya. Aku lalu teringat pada Ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikan aku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW membela Islam dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku sudah tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu untuk siapa lagi?”
            Setelah Rasulullah SAW mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan aku katakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku Rasulullah menjadi ayahmu?  … Dan apakah kamu juga ingin Ali menjadi pamanmu?. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu?…. dan Hasan dan Husein menjadi adik-adikmu? dan Aisyah menjadi ibumu ?. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”
Begitu mendengar kata-kata itu, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya.
Rasulullah memberikan banyak contoh yang berkaitan dengan anak yatim, antara lain :
“Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya”. (HR. Thabrani, Ahmad)

ADAB DAN SUNNAH BERHARI RAYA IEDUL FITRI



1.  Disunnahkan Qiyamul Lail
Dari Abu Umamah ra, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang melaksanakan qiyamullail pada dua malam Ied dengan ikhlas karena Allah, maka hatinya tidak akan pernah mati di hari matinya hati-hati manusia’ (HR Ibnu Majah)
2.  Mandi Pagi, menggunakan minyak wangi, dan berpakaian rapi
Dari Fakih bin Sa’d bahwasanya Rasulullah senantiasa mandi pada hari jum’at, hari arafah, dari Iedul Fitri dan hari Iedul Adha. Dan Fakih (perawi hadits ini) senantiasa memerintahkan keluarganya untuk mandi pada hari-hari tersebut. (HR Ahmad)
3.  Mendatangi tempat-tempat dilaksanakannya shalat ied
Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah memerintahkan anak-anak wanitanya dan istri-istrinya untuk keluar (mendatangi tempat shalat Ied) pada hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha). (HR Ahmad)
4.    Memakan sesuatu sebelum melaksanakan shalat Ied
Hal tersebut didasarkan dengan hadits dari Anas Bin Malik yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang menyebut : “Nabi SAW tidak keluar di pagi hari raya Iedul Fitri sehinggalah Nabi SAW memakan beberapa biji kurma.
5.  Jalan Kaki Menuju Tempat Sholat Ied dan Berbeda Jalan Saat Pulangnya
Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil jalan yang berbeda saat pulang & perginya (HR. Bukhari),
6.    Bertakbir mengagungkan Asma Allah
Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar di Hari Raya Iedul Fitri lalu beliau bertakbir sampai datang ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai shalat beliau memutus takbir.” (Ash-Shahihah no. 171)  
7.  Mengucapkan selamat hari Raya
Ibnu Hajar mengatakan:“Kami meriwayatkan dalam Al-Muhamiliyyat dengan sanad yang hasan dari Jubair bin Nufair bahwa ia berkata: ‘Para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bertemu di hari Id, sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amal kami & kalian) atau ahaalAllahu ‘alaika (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu).

HIKMAH IEDUL FITRI



1.       Hikmah kegembiraan
           Kegembiraan yang harus kita miliki dan rasakan haruslah merupakan kegembiraan syukur  kepada Allah yang telah mengkaruniakan taufiq kepada kita untuk bisa mengoptimalkan pengistimewaan Ramadhan dengan amal-amal yang serba istimewa, dalam rangka menggapai taqwa yang istimewa. Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa, ”Barangsiapa bersenang hati dengan amal kebaikannya, dan bersedih hati dengan keburukan yang diperbuatnya, maka berarti dia orang beriman” (HR. Ath-Thabrani).
2.    Hikmah Ketauhidan, Keimanan dan Ketaqwaan
           Dalam menyambut ‘Iedul Fitri, disunnahkan bagi kita untuk banyak mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid sebagai bentuk penegasan dan pembaharuan deklarasi iman dan tauhid. Itu berarti bahwa identitas iman dan tauhid harus selalu kita perbaharui dan kita tunjukkan.
3.    Hikmah Kefitrahan
           Ramadhan dengan segala amaliah istimewanya adalah salah satu momentum terbaik bagi peleburan dosa dan penghapusan noda yang mengotori hati dan jiwa kita serta membebani diri kita selama ini. Ramadhan dengan segala amaliah istimewanya adalah salah satu momentum terbaik bagi peleburan dosa dan penghapusan noda yang mengotori hati dan jiwa kita serta membebani diri kita selama ini.
Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Muttafaq ‘alaih).
4.    Hikmah Kepedulian
           Islam adalah agama peduli. Sifat serta karakter kepedulian itu begitu tampak nyata selama bulan Ramadhan. Dimana semangat berbagi dan spirit memberi melaui sunnah berinfaq dan bersedekah serta kewajiban berzakat. Dan itu semua tidak lain dalam rangka meniru dan mencontoh keteladanan terbaik dari Baginda Rasul tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam.
5.    Hikmah Kebersamaan dan Persatuan
           Selama Ramadhan, suasana dan nuansa kebersamaan serta persatuan ummat begitu kental, begitu terasa dan begitu indah. Mengawali puasa bersama-sama (seharusnya dan sewajibnya), bertarawih bersama (disamping jamaah shalat lima waktu juga lebih banyak selama Ramadhan), bertadarus bersama, berbuka bersama, beri’tikaf bersama, berzakat fitrah bersama, dan berIedul Fitri bersama.