Kamis, 24 April 2014

SUMAYYAH, SIMBOL KETEGUHAN WANITA

Sumayyah binti Khayyath adalah seorang hamba sahaya milik Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Oleh tuannya, ia dikahwinkan dengan seorang lelaki asal Yaman yang bernama Yasir bin Amir yang merupakan perantau di kota Makkah. 
          Hasil perkahwinannya dengan Yasir bin Amir, Sumayyah dikuruniai anak lelaki yang diberi nama Ammar bin Yasir. Melalui anak lelakinya inilah, pasangan Yasir dan Sumayyah mengenali agama Islam.
          Bahkan mereka kemudian mengikuti jejak Ammar untuk bersyahadat dan menjadi Muslim dan Muslimah.
          Keislamanan yang awalnya disembunyikan akhirnya diketahui juga. Mendengar cerita bahwa keluarga Yassir ini memeluk agama Islam menimbulkan kemarahan Abu Hudzaifah. la memaksa supaya keluarga ini meninggalkan Islam dan kembali kepada agama nenek moyang mereka yang menyembah latta dan uzza.
          Sumayyah yang merupakan seorang wanita, dihumban ke atas pasir, lalu tubuhnya ditimbun dengan pasir yang sangat panas.Seakan belum puas hati, dada Sumayyah kemudian dihimpit dengan batu besar supaya ia tidak dapat bernafas. Lalu mereka memaksa Sumayyah untuk mengimani berhala-berhala nenek moyang mereka. Namun wanita solehah ini tetap bertahan dengan keyakinannya kerana ingat janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang bertakwa, yaitu syurga.
          Suatu hari ketika Ammar mengadu pada Rasulullah s.a.w. mengenai keadaannya. Rasul yang setiap hari datang memberikan sokongan lantas berseru, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga.” Hingga suatu ketika, orang Quraisy berasa putus asa dengan keteguhan iman ketiganya, mereka memutuskan membunuh Sumayyah. Dengan tombaknya yang runcing, Abu Jahal menjadikan Sumayyah mujahidah pertama yang gugur di jalan
Allah apabila tombak tersebut menembusi dada Sumayyah.
          Menjelang wafatnya, tidak sedetik pun Sumayyah menggadaikan keimanannya. Sumayyah binti Khayyath simbol ketabahan hati, kekuatan iman, dan ketangguhan jiwa seorang mujahidah
“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah Al Ankabut, ayat 2).



PERANAN WANITA DALAM ISLAM

1.   Wanita sebagai  istri
‘ibrah dari sosok Khadijah. Dia adalah wanita tangguh yang berperan penting dalam menguatkan dakwah Rasûlullâh. Peristiwa turunnya wahyu pertama menjadi referensi penting yang perlu diingat. Saat Rasûlullâh shallallâh ‘alaihi wa sallam mendapat wahyu pertama di gua Hira’, beliau kemudian pulang ke rumah dalam keadaan gemetar dan hampir pingsan. Nabi Muhammâd kemudian berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Saat melihat hal tersebut, Khadijah kemudian berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)

2.   . Wanita sebagai Ibu
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari)

3.   Bagi masyarakat dan Negara
Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.



MUSLIMAH DAN PERJUANGANNYA

Perjuangan seorang Kartini bagaikan mata air di padang pasir, saat kaum perempuan dianggap lemah dan tak berdaya, beliau justru mematahkan semua paradigma terhadap perempuan, membuat dogma baru bahwa perempuan punya hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala hal, yang membedakannya hanya dalam tataran konsep dasar dan hakikat bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki. Jika Kartini menginginkan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian yang lebih mulia terhadap perempuan, kembalikanlah segala sesuatu kepada Al-Quran dan hadits. Bahwa apapun paham-paham yang berkembang sekarang namun tetaplah menjadi jati diri seorang muslimah, seperti Siti Khadijah yang walaupun seorang saudagar, namun mampu menjalankan perannya sebagai istri dan menjadikannya seorang wanita shalehah, karena setiap muslimah adalah mutiara.
Betapa Islam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Penyebutan ibu tiga kali dan ayah satu kali bukannya tanpa arti, namun tersirat makna bahwa yang lebih diutamakan untuk dihargai adalah ibu, bukan berarti pula tidak menghormati ayah.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Perempuan dan laki-laki memang insan yang berbeda, namun dalam Al-Quran ditegaskan bahwa perbedaan itu hanya dalam masalah peran dan fungsi saja, bahwa seorang perempuan mempunyai fungsi sebagai: mar’atushsholihah, zaujatu muthi’ah, dan ummul madrasah berbeda dengan laki-laki.

WANITA DALAM PANDANGAN ISLAM

1. Allah swt memerintahkan untuk tinggal -rumah mereka agar terjaga kehormatanya. Q. S. Al-Ahzab (33): 33, "Dan hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah kaAllah swt mtidak membebankan mereka untuk mencari nafkah bagi anak-anak ereka
2. Kaum wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuh mereka
3. Kaum wanita atau seorang wanita tidak boleh bepergian dalam sebuah safar melainkan harus ditemani oleh seorang mahram
4. Kaum wanita dilarang bertabarruj (bersolek) seperti wanita Jahiliyah
5. Urusan talak perceraian tidak diserahkan kepada wanita. Q. S. Al-Baqarah (2): 236, "Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya". Dan dalam Q. S. Ath-Thalaq: 1, "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu". Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: "Perceraian di tangan kaum lelaki dan tidak di tangan selainnya"
6. Tidak diwajibkan bagi wanita untuk memikul amanat jihad fi sabilillah seperti dibebankannya kewajiban itu kepada kaum lelaki.

SALAM RSUA Edisi 12

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabaraktuhu
Segala puji bagi Allah Subahanahu wa ta’ala, Rabb semesta alam, yang merajai kehidupan, Rabbul izzati. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaat beliau di yaumul akhir kelak. Aamiin. Asyhadu anal ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.
Pembahasan Islam tentang wanita tidak terlepas dari sejarah wanita tertindas, wanita pada masa jahiliyah, maupun wanita di masa modern. Peran wanita mengalami perubahan seiring perubahan zaman, namun Islam datang untuk senantiasa melindungi wanita dari kejahiliyaan, tertindas, dan fitnah zaman. Islam senantiasa memuliakan wanita dengan teladan, petunjuk, dan hikmah.
Segala bentuk kedzaliman telah dihapuskan dan Islam mengembalikan kedudukan wanita dan menjadikan wanita sebagai mitra laki-laki yang berkedudukan sejajar dalam urusan pahala, siksa dan semua hak, kecuali perkara yang memeang dikhususkan untuk wanita.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih maupun laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari yang mereka kerjakan” (QS An Nahl : 97)
Wallahu ‘alam Bishshowab
Wassalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuhu

Senin, 14 April 2014

QUOTE

Istiqamah mensyaratkan pemahaman menepatinya dengan menuntaskan segala konsekuensinya, kemudian berkomitmen untuk mempertahankan ketulusan dan menjauhkannya dari segala bentuk daki sekecil apapun yang akan menodainya.
“ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah   Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’
(QS Fushshilat 30)

TELADAN ROSULULLAH

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu'aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

KESEDERHANAAN PEMIMPIN


Umar Ibn al–khatab,pada saat baru dilantik menjadi Khalifah, di berikanlah kepada beliau tunjangan sebagaimana yang telah di tetapkan oleh khalifah sebelumnya. Di saat awal pemerintahannya, harga-harga kebutuhan pokok di pasar-pasar  mulai merangkai naik. Saat itulah para tokoh dari kaum muhajirin seperti Usman r.a, Ali r.a, Thalhah dan Zubair berkumpul untuk melakukan musyawarah mengenai hal ini untuk menyesuaikan tunjangan Khalifah  Umar r.a.
            Ditengah jalan, sahabat Usman r.a berkata   “Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada khalifah Umar, lebih baik kita beri isyarat dulu kepada putrinya, Hafsah. Sebab saya khawatir umar akan marah kepada kita”.
            Selanjutnya Hafsah meminta pendapat pada ayahnya, jika ada seseorang yang mengajukan  usulan agar tunjangan untuk khalifah dinaikkan. Mendengar itu khalifah Umar r.a murka, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan tersebut ? “.Hafsah menjawab : “ Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum ayah memberikan pendapat tentang usulan ini “.
            Kemudian Umar kembali berkata “Demi Allah, seandainya aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajahnya”.
            Setelah itu Khalifah kembali bertanya kepada Hafsah, ketika masih mendampingi Rosullulah Muhammad SAW sebagai istrinya, “Demi Allah, ketika rosullullah masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau dirumahnya ? “
            Hafsah menjawab “Dirumahnya beliau hanya memiliki dua helai pakaian, satu untuk dipakai menerima tamu dan satunya lagi untuk dipakai sehari-hari“.
“Bagaimana makanan yang dimiliki Rasul ?” Tanya Umar lagi.
Jawab Hafsah, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin”.
Kembali Umar bertanya “Adakah Rasul mempunyai kasur dirumahnya?“
“Tidak, beliau hanya memiliki selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan ditubuh, separuhnya lagi digunakan untuk alas tidur “ jawab Hafsah.
Lalu Umar berkata “Hafsah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasullullah selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu Beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karenanya, aku pun akan mengikuti jejak Beliau.

DIMENSI ISTIQOMAH


1.   Istiqamah dalam mentaati perintah-perintah Allah.
Bagi seorang hamba Allah yang shaleh, ia selalu mentaati kedua perintah Allah, baik dalam keadaan suka maupun duka. Ia berpegang teguh pada perintah-perintah Allah dan RasulNya hingga ajal datang kepadanya.

2.   Istiqamah dalam menjauhi larangan Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman janganlah engkau mengikuti langkah-langkah syaitan, barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesung-guhnya ia menyuruh berbuat keji dan mungkar”. (QS. An-Nur : 21)

3.   Istiqamah dalam mensyukuri nikmat
Mensyukuri nikmat Allah tidak cukup hanya dengan perkataan dan melaksanakan  ibadah-ibadah wajib saja, akan tetapi mensyukuri nikmat-nikmatNya dengan menjalankan ibadah-ibadah sunnah

4.   Istiqamah dalam kesabaran
Allah akan menguji setiap hambaNya dengan berbagai macam ujian. Diantara ujian tersebut adalah adanya rasa takut, rasa lapar, sedikit harta, kefakiran, kemiskinan, datangnya musibah, dan masih banyak lagi ujian-ujian lainnya. Orang-orang yang bersabar adalah orang yang selalu mengatakan : “Kami milik Allah dan Kami akan kembali kepadaNya”. Rasul mengingatkan kita dengan sabdanya : “Suatu saat akan datang kepada manusia, orang-orang yang sabar berpegang teguh pada agamanya seperti orang-orang yang sedang menggenggam bara api neraka”. (HR. Tirmizi dari Anas bin Malik).

PENTINGNYA ISTIQOMAH

Istiqomah ialah suatu perbuatan yang mengamalkan atau mengikuti dengan sebaik-baiknya selama hidup. 
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang berkata: “Rabb kami adalah Allah”, kemudian mereka beristiqamah, maka tak ada baginya rasa takut dan duka cita. Mereka adalah penghuni syurga kekal di dalamnya sebagai balasan atas apa-apa yang mereka perbuat”. (Qs.Al Ahqaaf:13-14)
Juga sabda  Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam kepada seorang yang minta diajarkan satu perkataan dalam Islam yang sangat agung.“Ucapkanlah: “Aku beriman, kemudian beristiqamahlah kamu”. (HR. Muslim no: 55).
Terkadang manusia lalai terhadap perintah Allah SW. Untuk  menutupi kelalaian yang telah diperbuat oleh manusia, hendaknya kita banyak beristighfar, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Fushilat: ayat  6 “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqamah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6).
Pedoman hidup sesuai dengan di Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Ayat ini memerintahkan untuk istiqamah sekaligus merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqamah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah).