Perjuangan
seorang Kartini bagaikan mata air di padang pasir, saat kaum perempuan dianggap
lemah dan tak berdaya, beliau justru mematahkan semua paradigma terhadap
perempuan, membuat dogma baru bahwa perempuan punya hak yang sama dengan kaum
laki-laki dalam segala hal, yang membedakannya hanya dalam tataran konsep dasar
dan hakikat bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki. Jika Kartini menginginkan
penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian
yang lebih mulia terhadap perempuan, kembalikanlah segala sesuatu kepada
Al-Quran dan hadits. Bahwa apapun paham-paham yang berkembang sekarang namun
tetaplah menjadi jati diri seorang muslimah, seperti Siti Khadijah yang
walaupun seorang saudagar, namun mampu menjalankan perannya sebagai istri dan
menjadikannya seorang wanita shalehah, karena setiap muslimah adalah mutiara.
Betapa
Islam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Penyebutan ibu tiga kali dan
ayah satu kali bukannya tanpa arti, namun tersirat makna bahwa yang lebih
diutamakan untuk dihargai adalah ibu, bukan berarti pula tidak menghormati
ayah.
“Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Ku lah kembalimu.”
Perempuan
dan laki-laki memang insan yang berbeda, namun dalam Al-Quran ditegaskan bahwa
perbedaan itu hanya dalam masalah peran dan fungsi saja, bahwa seorang
perempuan mempunyai fungsi sebagai: mar’atushsholihah, zaujatu muthi’ah, dan
ummul madrasah berbeda dengan laki-laki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar