1.
Wanita sebagai istri
‘ibrah
dari
sosok Khadijah. Dia adalah wanita tangguh yang berperan penting dalam
menguatkan dakwah Rasûlullâh. Peristiwa turunnya wahyu pertama menjadi
referensi penting yang perlu diingat. Saat Rasûlullâh shallallâh ‘alaihi wa
sallam mendapat wahyu pertama di gua Hira’, beliau kemudian pulang ke rumah
dalam keadaan gemetar dan hampir pingsan. Nabi Muhammâd kemudian berkata
kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan
diriku.” Saat melihat hal tersebut, Khadijah kemudian berkata kepada beliau,
“Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu.
Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa
berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan
orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab
Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)
2. . Wanita sebagai Ibu
“Wahai
Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?”
Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”,
tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”,
tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian
ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari)
3. Bagi masyarakat
dan Negara
Jika
ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk
mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika
ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai
andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah
disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah
terpenuhi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar