Kamis, 24 April 2014

PERANAN WANITA DALAM ISLAM

1.   Wanita sebagai  istri
‘ibrah dari sosok Khadijah. Dia adalah wanita tangguh yang berperan penting dalam menguatkan dakwah Rasûlullâh. Peristiwa turunnya wahyu pertama menjadi referensi penting yang perlu diingat. Saat Rasûlullâh shallallâh ‘alaihi wa sallam mendapat wahyu pertama di gua Hira’, beliau kemudian pulang ke rumah dalam keadaan gemetar dan hampir pingsan. Nabi Muhammâd kemudian berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” Saat melihat hal tersebut, Khadijah kemudian berkata kepada beliau, “Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)

2.   . Wanita sebagai Ibu
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”. Laki-laki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari)

3.   Bagi masyarakat dan Negara
Jika ia adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib baginya untuk mendakwahkan apa yang ia ketahui kepada kaum wanita lainnya. Begitu pula jika ia merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka ia bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan dan tentunya setelah kewajibannya sebagai ibu rumah tangga telah terpenuhi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar