Minggu, 28 September 2014

SUNNAH DALAM BERKURBAN




1.       Menyembelih sendiri atau menyaksikan langsung, Jika tidak bisa maka hendaklah hadir dan menyaksikan, sesuai sabda Rasulullah Dari Umran bin Husain berkata: Rasulullah saw bersabda: “Wahai Fatimah bangkitlah dan saksikanlah hewan kurbanmu, sesungguhnya dosamu yang pernah kamu lakukan diampuni bersamaan dengan tetesan darah pertama dari darahnya yang mengalir, dan bacalah: ‘Inna shalatiy wa nusukiy wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘Aalamiin laa syariika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin’(HR. Al Baihaqi)
2.       Mengasah alat untuk menyembelih hingga tajam.
3.       Tidak mengasah pisau di depan hewan sembelihan, tidak menyembelihnya di hadapan
4.       hewan yang lain dan tidak menariknya dengan  kasar.
5.       Menghadap kiblat
6.       Membaca membaca takbir setelah basmalah
7.       Memakan sebagian dari daging qurban dan bershodaqoh dengannya.

SYARAT BINATANG QURBAN


1.    Harus Dari Binatang Ternak
Binatang ternak tersebut berupa unta, sapi, kambing ataupun domba. Hal ini sebagaimana firman Allah (artinya):
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka”
(Al-Hajj: 34)
2.    Harus Mencapai Usia Musinnah dan Jadza’ah
“Janganlah kalian menyembelih kecuali setelah mencapai usia musinnah (usia yang cukup bagi unta, sapi dan kambing untuk disembelih, pen). Namun apabila kalian mengalami kesulitan, maka sembelihlah binatang yang telah mencapai usia jadza’ah (usia yang cukup, pen) dari domba.” (HR. Muslim)
3.    Tidak Cacat
Empat bentuk cacat yang tidak boleh ada pada binatang kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya dan kurus yang tidak bersumsum” (HR. Abu Dawud)

MERUNTUT SEJARAH QURBAN



Jika dirunut secara historis, peristiwa penyembelihan hewan kurban ini terjadi sejak jaman Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad SAW dan umatnya.
Pada masa Nabi Idris, bagi kaumnya ditetapkan hari-hari raya pada waktu-waktu yang tertentu serta berkurban. Di antaranya saat terbenam matahari ke ufuk dan saat melihat hilal. Mereka diperintah berkurban antara lain dengan al-Bakhûr (dupa atau wangi-wangian), al-Dzabâih (sembelihan), al-Rayyâhîn (tumbuhan-tumbuhan yang harum baunya), di antaranya al-Wardu (bunga ros), dan al-hubûb biji-bijian, seperti al-Hinthah (biji gandum), dan juga berkurban dengan al-Fawâkih (buah-buahan), seperti al-‘Inab (buah anggur).
Sedangkan pada zaman Nabi Nuh, sesudah terjadi banji, Nabi Nuh membuat tempat yang sengaja dan tertentu untuk meletakkan kurban, yang nantinya kurban tersebut sesudah diletakkan di tempat tadi dibakar.
Adapun pada masa Nabi Ibrahim, dapat dipahami dari Al-Qur’an Surat Ash-Shaffaat ayat 102:“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Dalam mimpinya, Ibrahim mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail.
Ketika sampai di Mina, Ibrahim menginap dan bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Demikian juga ketika di Arafah, malamnya di Mina, Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang tidak berbeda pula. Ibrahim kemudian mengajak putranya, Ismail, berjalan meninggalkan tempat tinggalnya, Mina. Baru saja Ibrahim berjalan meninggalkan rumah, syetan menggoda Siti Hajar: “Hai Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail?”. Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak: “Ya Ibrahim, ya Ibrahim mau diapakan anakku?”
Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Setibanya di Jabal Kurban, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya, Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah drastis, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103-107:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah Dia: "Hai Ibrahim, “Kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik”. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “.
Dari syari’at kurban pada zaman Nabi Ibrahim yang diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW maka umat Islam mengadakan penyembelihan hewan kurban di saat Idul Adha.Allah berfirman dalam Surat Al-Kautsar ayat 1-3: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.

AMALAN YANG DIANJURKAN SEPULUH HARI PERTAMA AWAL DZULHIJJAH




Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.
            Secara umum dianjurkan untuk meningkatkan amal shalih, misalnya memperbanyak dzikir dan do’a, memperbanyak sedekah, infaq, amar ma’ruf nahi munkar, menunjukkan bakti kepada orang tua, memperbanyak sujud melalui shalat-shalat sunnah, shalat berjamaah,  meninggalkan perbuatan dosa, dan sebagainya.
            Di antara keutamaan yang Allah berikan pada kita adalah Allah menjadikan awal Dzulhijjah sebagai waktu utama untuk beramal sholih terutama melakukan amalan puasa. Lebih-lebih lagi puasa yang utama adalah puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
            Pada awal Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa selain pada hari Nahr (Idul Adha). Karena hari tersebut adalah hari raya, maka kita diharamkan untuk berpuasa. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijjah dan hari-hari sebelumnya (1-9 Dzulhijjah) disyari’atkan untuk berpuasa
            Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”