Jika dirunut secara
historis, peristiwa penyembelihan hewan kurban ini terjadi sejak jaman Nabi
Adam As sampai Nabi Muhammad SAW dan umatnya.
Pada
masa Nabi Idris, bagi kaumnya ditetapkan hari-hari raya pada waktu-waktu
yang tertentu serta berkurban. Di antaranya saat terbenam matahari ke ufuk dan
saat melihat hilal. Mereka diperintah berkurban antara lain dengan al-Bakhûr
(dupa atau wangi-wangian), al-Dzabâih (sembelihan), al-Rayyâhîn
(tumbuhan-tumbuhan yang harum baunya), di antaranya al-Wardu (bunga
ros), dan al-hubûb biji-bijian, seperti al-Hinthah (biji gandum),
dan juga berkurban dengan al-Fawâkih (buah-buahan), seperti al-‘Inab (buah
anggur).
Sedangkan
pada zaman Nabi Nuh, sesudah terjadi banji, Nabi Nuh membuat tempat yang
sengaja dan tertentu untuk meletakkan kurban, yang nantinya kurban tersebut
sesudah diletakkan di tempat tadi dibakar.
Adapun
pada masa Nabi Ibrahim, dapat dipahami dari Al-Qur’an Surat Ash-Shaffaat
ayat 102:“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar". Dalam mimpinya,
Ibrahim mendapat perintah dari Allah supaya menyembelih putranya Nabi Ismail.
Ketika
sampai di Mina, Ibrahim menginap dan bermimpi lagi dengan mimpi yang sama.
Demikian juga ketika di Arafah, malamnya di Mina, Ibrahim bermimpi lagi dengan
mimpi yang tidak berbeda pula. Ibrahim kemudian mengajak putranya, Ismail,
berjalan meninggalkan tempat tinggalnya, Mina. Baru saja Ibrahim berjalan
meninggalkan rumah, syetan menggoda Siti Hajar: “Hai Hajar! Apakah benar
suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail?”. Akhirnya Siti
Hajar, sambil berteriak-teriak: “Ya Ibrahim, ya Ibrahim mau diapakan anakku?”
Tapi
Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Setibanya di Jabal
Kurban, sekitar 200 meter dari tempat tinggalnya, Nabi Ibrahim melaksanakan
perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah drastis,
sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103-107:
“Tatkala
keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya,
nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah Dia: "Hai Ibrahim, “Kamu
telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang yang berbuat baik”. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang
nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “.
Dari syari’at kurban
pada zaman Nabi Ibrahim yang diteruskan oleh Nabi Muhammad SAW maka umat Islam
mengadakan penyembelihan hewan kurban di saat Idul Adha.Allah berfirman dalam Surat
Al-Kautsar ayat 1-3: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu
nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.