Islam
telah memberikan perhatian yang amat spesifik dalam masalah keluarga, dan
menempatkan keluarga sebagai batu bata kokoh dalam membangun peradaban umat
manusia.
Di antara fungsi besar dalam
keluarga adalah edukatif. Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang
pendidikan bermula. Apabila salah dalam pendidikan awalnya, peluang untuk
terjadi berbagai distorsi pada diri anak demikian tinggi. Demikian pula
sebaliknya. Di sini kata yang digunakan adalah tarbiyah, bukan ta’dib, sebagai
makna pendidikan atau juga pembinaan.
Tak bisa disangkal lagi bahwa
pendidikan bermula dari rumah, bukan dari sekolah.
Khalid Ahmad Asy Syantuh
menyebutkan, pendidikan merupakan sarana perombakan yang fundamental. “Sebab”,
katanya, “ia mampu merombak jiwa manusia dari akar-akarnya”. Seluruh anggota
keluarga harus mendapatkan sentuhan tarbiyah untuk menghantarkan mereka menuju
optimalisasi potensi, pengembangan kepribadian, peningkatan kapasitas diri
menuju batas-batas kebaikan dan kesempurnaan dalam ukuran kemanusiaan.
Pendidikan dalam keluarga tengah
menyiapkan anggotanya mencapai tujuan tertinggi tersebut, atau dalam bahasa
Muhammad Quthb diistilahkan dengan ungkapan ringkas, “manusia yang baik”,
sebagaimana ungkapan Al Qur’an: “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian
adalah yang paling bertaqwa”
Secara normatif, Abdullah Nasih
Ulwan menyebutkan tujuh macam pendidikan integratif dalam keluarga, yaitu
pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual,
pendidikan psikis, pendidikan sosial, dan pendidikan seksual. Ketujuh macam
pendidikan tersebut harus terintegrasikan secara sistemik dalam keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar