Senin, 20 April 2015

DAMPAK KETIKA HATI DILIPUTI RASA IKHLAS



1.       Senantiasa beramal dan bersungguh– sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian atau pun celaan.
2.       Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam sebuah hadits, “ Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku ynag datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti gunung tihaman yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu– debu yang berterbangan. Mereka adalah saudara– saudara kaum kamu dan kulitnya sama dengan kami, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah” (HR Ibnu Majah)

TIGA TANDA IKHLAS



1.       Tetap merasa sama antara pujian dan celaan orang lain.
2.       Melupakan amalan kebajikan yang dulu pernah diperbuat.
3.       Mengharap balasan dari amalan di akhirat (dan bukan di dunia).

LELAKI DENGAN SANDAL JEPIT ITU...



Suatu hari, para sahabat Nabi Muhammad SAW sedang duduk di serambi masjid. Tiba-tiba, Nabi Muhammad SAW berkata, “Sebentar lagi akan ada seorang ahli surga yang mengenakan sandal jepit lewat di depan kita.”
Semua sahabat kaget dan tertegun. Siapakah orang yang dimaksud nabi? Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki berjalan di depan mereka dengan mengenakan sandal jepit yang nyaris tak dapat digunakan. Lalu, para sahabat pun berpikir, “Tak mungkin orang ini yang dimaksud Rasulullah SAW tadi.” Lalu, mereka pun menunggu kedatangan orang yang dimaksud Nabi Muhammad SAW. Siapakah gerangan lelaki yang dimaksud Nabi Muhammad itu SAW?
Sekali lagi, tetap laki-laki itulah yang melintas di depan mereka tadi.
Maka, mereka pun baru yakin bahwa lelaki itu pastilah yang dimaksud Rasululllah SAW.
Siapakah lelaki ini? Apa saja keistimewaannya sehingga Rasulullah SAW menyebutnya sebagai ahli surga? Dan para sahabat itu berusaha mencari tahu dimana ia tinggal.
Assalaamu’alaikum” ucap sahabat di depan pintu.
Lelaki pemilik rumah itu langsung menjawab salam para sahabat dan menemuinya dengan ramah. Lalu, para sahabat pun bercerita tentang ucapan Nabi Muhammad SAW tadi. Agar dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan harian yang dilakukan lelaki itu, mereka - para sahabat itu - ingin tinggal selama tiga hari di rumah lelaki itu. Dan lelaki pemilik rumah itu mengizinkannya.
Hari pertama para sahabat tinggal di rumah lelaki itu, tak ada satu pun kebiasaan istimewa yang dilakukan lelaki itu. Shalat, mengaji, dzikir, sedekah, dan semua kebiasaan harian dilakukan biasa-biasa saja. Semua yang dilihat dan diperhatikan hari pertama terjadi lagi pada hari kedua dan ketiga. Lalu, mengapa Rasulullah SAW mengatakan bahwa lelaki itu menjadi ahli surga? Apa yang menjadikannya sehingga menjadi lelaki yang begitu istimewa hingga seorang Muhammad SAW berani menjamin surga baginya?
Karena sudah tiga hari tinggal bersama dengan lelaki itu, para sahabat pun berusaha bertanya. Para sahabat pun berkata kepada lelaki itu, “Wahai Fulan, selama tiga hari kami sudah tinggal bersama Anda. Namun, kami tidak menemukan satu pun keistimewaan pada diri Anda. Lalu, mengapa sehingga Rasulullah SAW menyebutmu sebagai ahli surga?”
Mendengar pertanyaan para sahabat, lelaki itu pun menjawab bahwa dirinya dijamin menjadi ahli surga karena ikhlas menerima keadaan dan tidak memiliki sifat iri, apalagi dengki, sama sekali. “Meskipun kehidupan keluarga kami seperti ini, kami menerima keadaan ini sebagai anugerah kami. Meskipun tetangga kami berkehidupan lebih baik daripada kami, itu sudah menjadi rezekinya. Dan kami menjauhi sifat iri kepadanya, apalagi dengki!”

PENTINGNYA IKHLAS DALAM BERAMAL




Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Sesungguhnya seseorang akan mendapatkan anugerah -balasan dari Allah- sebatas apa yang dia niatkan.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7 oleh Imam an-Nawawi)
Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah menjelaskan, “Ikhlas adalah menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat melakukan ketaatan, yaitu dia berniat dengan ketaatannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal mencari kedudukan di hadapan manusia, mengejar pujian orang-orang, gandrung terhadap sanjungan, atau tujuan apapun selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan. Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima jika tidak memenuhi kedua-duanya (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)
Seorang lelaki berkata kepada Muhammad bin Nadhr rahimahullah, “Dimanakah aku bisa beribadah kepada Allah?” Maka beliau menjawab, “Perbaikilah hatimu, dan beribadahlah kepada-Nya di mana pun kamu berada.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abu Turab rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam amalannya niscaya dia akan bisa merasakan kelezatan amal itu sebelum melakukannya. Dan apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan merasakan kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)

SALAM RSUA EDISI 31



IKLAS UNTUK ALLAH TAALA
Para ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya hakikatnya sama.
            Abul Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah di luar mendekatkan diri pada Allah.”
            Jika kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian manusia.
            Hudzaifah Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan. Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin
            Ikhlas berarti menyengajakan suatu perbuatan karena Allah dan mengharapkan ridlaNya serta memurnikan dari segala macam kotoran dan godaan seperti keinginan terhadap popularitas, simpati orang lain, kemewahan, kedudukan, harta, dan pemuasan hawa nafsu dan penyakit hati lainnya. Hal ini sesuai dengan surah Al An’ am ayat 162-163 :
“ Katakanlah : “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama– tama menyerahkan diri (kepada Allah)”