Suatu
hari, para sahabat Nabi Muhammad SAW sedang duduk di serambi masjid. Tiba-tiba,
Nabi Muhammad SAW berkata, “Sebentar lagi akan ada seorang ahli
surga yang mengenakan sandal jepit lewat di depan kita.”
Semua sahabat kaget dan tertegun. Siapakah orang yang
dimaksud nabi? Tiba-tiba muncullah seorang laki-laki berjalan di depan mereka
dengan mengenakan sandal jepit yang nyaris tak dapat digunakan. Lalu, para
sahabat pun berpikir, “Tak mungkin orang ini yang dimaksud
Rasulullah SAW tadi.”
Lalu, mereka pun menunggu kedatangan orang yang dimaksud Nabi Muhammad SAW.
Siapakah gerangan lelaki yang dimaksud Nabi Muhammad itu SAW?
Sekali
lagi, tetap laki-laki itulah yang melintas di depan mereka tadi.
Maka, mereka pun baru yakin
bahwa lelaki itu pastilah yang dimaksud Rasululllah SAW.
Siapakah lelaki ini? Apa saja keistimewaannya sehingga
Rasulullah SAW menyebutnya sebagai ahli surga? Dan para sahabat itu
berusaha mencari tahu dimana ia tinggal.
“Assalaamu’alaikum” ucap sahabat di depan pintu.
Lelaki pemilik rumah itu langsung menjawab salam para
sahabat dan menemuinya dengan ramah. Lalu, para sahabat pun bercerita tentang
ucapan Nabi Muhammad SAW tadi. Agar dapat mengetahui kebiasaan-kebiasaan harian
yang dilakukan lelaki itu, mereka - para sahabat itu - ingin tinggal selama
tiga hari di rumah lelaki itu. Dan lelaki pemilik rumah itu mengizinkannya.
Hari pertama para sahabat tinggal di rumah lelaki itu,
tak ada satu pun kebiasaan istimewa yang dilakukan lelaki itu. Shalat, mengaji,
dzikir, sedekah, dan semua kebiasaan harian dilakukan biasa-biasa saja. Semua
yang dilihat dan diperhatikan hari pertama terjadi lagi pada hari kedua dan
ketiga. Lalu, mengapa Rasulullah SAW mengatakan bahwa lelaki itu menjadi ahli
surga? Apa yang menjadikannya sehingga menjadi lelaki yang begitu istimewa
hingga seorang Muhammad SAW berani menjamin surga baginya?
Karena sudah tiga hari tinggal bersama dengan lelaki
itu, para sahabat pun berusaha bertanya. Para sahabat pun berkata kepada lelaki
itu, “Wahai Fulan, selama tiga hari kami sudah tinggal bersama Anda. Namun,
kami tidak menemukan satu pun keistimewaan pada diri Anda. Lalu, mengapa
sehingga Rasulullah SAW menyebutmu sebagai ahli surga?”
Mendengar pertanyaan para sahabat, lelaki itu pun
menjawab bahwa dirinya dijamin menjadi ahli surga karena ikhlas menerima keadaan dan tidak
memiliki sifat iri, apalagi dengki, sama sekali. “Meskipun kehidupan keluarga
kami seperti ini, kami menerima keadaan ini sebagai anugerah kami. Meskipun
tetangga kami berkehidupan lebih baik daripada kami, itu sudah menjadi
rezekinya. Dan kami menjauhi sifat iri kepadanya, apalagi dengki!”