Minggu, 28 Desember 2014

Sebab Datangnya Hidayah ALLAH ta’ala



1.       Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan
2.       Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah Ta’ala secara keseluruhan lahir dan batin
3.       Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya
4.       Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
5.       Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam beragama
6.       Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita
7.       Mengimani takdir Allah Ta’ala dengan benar
8.       Berlapang dada menerima keindahan Islam serta meyakini kebutuhan manusia lahir dan batin terhadap petunjuknya yang sempurna
9.       Bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah Ta’ala dan selalu berusaha mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan dan meneguhkan hidayah Allah Ta’ala

CIRI ORANG YANG MENDAPAT HIDAYAH



1. Al Muhtadun / hatinya bersih/bercahaya.
2. Mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam.
3. Tidak mencampur-baurkan yang Haq dan yang batil.

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”
(QS. Al Baqarah, 2:42)

KISAH MAHALNYA SEBUAH HIDAYAH



Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. ia adalah dulunya termasuk dari tabi'in (270 h) yang hafal al quran. namanya adalah sebaik-baik nama, 'Abdah bin 'Abdurrahiim. Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua isi al quran dalam hafalannya melainkan 2 ayat saja yang tersisa.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. tiba-tiba mata 'Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya.  Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos suul khotimah.
            Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
            Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama Nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati 'abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta al quran. hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… astaghfirullah, ma’adzalah.
Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. ia rela murtad. Menikahlah dia didalam benteng. kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana bisa seorang hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. ketika ditanyakan kepadanya, "dimana Al quran mu yang dulu???"
Ia menjawab, "aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :
"Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim."
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).[QS. Al Hijr : 2-3]
            Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yg terakhir namun tak digubrisnya. dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum Nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati.  Mati dalam keadaan murtad.
ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa
"Tidaklah Aku tinggalkan setelahKu fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita." (Muttafaq ‘Alaih).

MACAM HIDAYAH



1.Hidayah I’tiqodiyah
(Petunjuk Terkait Keyakinan Hidup)
“Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong”. (Q.S. An-Nahl :37)
2.Hidayah Thoriqiyah
(Petunjuk Terkait Jalan Hidup)
“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj: 67) 
3.Hidayah ‘Amaliyah
(Petunjuk Terkait Aktivitas Hidup)
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)  
4.Hidayah Fithriyah (Fitrah)
            Hidayah Fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.
            Realisasinya tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firman-Nnya:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”
(Q.S. Al-An’am: 77)

SALAM RSUA EDISI 25



HIDAYAH
Hidayah adalah sesuatu yang bisa memberitahu (petunjuk). Hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar, seperti firman Allah: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf:178).
            Beruntunglah orang-orang yang mendapat hidayah. Di beberapa tempat dalam al-Qur’an, Rasulullah, Muhammad SAW sangat menginginkan keluarga dan kaumnya mendapat hidayah itu. Namun Allah SWT mengingatkan beliau bahwa urusan memberi hidayah adalah hak prerogatif-Nya . perhatikan ayat berikut : “Sesungguhnya Allah memberi hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Baqarah, 213).
            Oleh karena itu, al-Qur’an mengajarkan doa berikut: “ya Tuhan kami, janganlah sesatkan kami setelah engkau memberi hidayah kepada kami dan karuniakanlah kami kasih sayang dari sisi-Mu. Sesungguhnya engkau maha pemberi karunia”. (QS. Ali Imran, 8). Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.