Kamis, 09 Januari 2014

KISAH TAUBATNYA MALIK BIN DINAR

Malik bin Dinar adalah seorang laki-laki yang sangat tampan, gemar bersenang-senang dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah-limpah. Ia tinggal di daerah Damaskus dimana golongan Mu'awiyah telah membangun sebuah masjid yang besar dan mewah.
Malik ingin sekali diangkat sebagai pengurus masjid tersebut. Pada waktu itu salah seorang yang menjadi pengurus masjid adalah jabatan yang terpandang.
Maka pergilah ia ke masjid itu. Di pojok ruangan masjid dibentangkannya sajadah dan di situlah selama setahun penuh ia melakukan ibadah sambil berharap agar setiap orang yang melihatnya sedang melakukan shalat.
"Alangkah munafiknya aku ini," ia selalu mencerca dirinya sendiri. Setahun telah berlalu.
Apabila hari telah malam, Malik keluar masjid itu dan pergi bersenang-senang.
Pada suatu malam, ktika ia sedang asyik menikmati musik sementara teman-temannya telah tertidur, tiba-tiba saja dari kecapi yang sedang dimainkan terdengar suara, "Hai Malik, mengapakah engkau belum juga bertobat?" Mendengar kata-kata yang sangat menggetarkan hati ini, Malik segera saja melemparkan kecapinya dan berlari
menuju masjid.
Di dalam masjid ia berbicara kepada dirinya sendiri. "Selama setahun penuh aku menyembah Allah secar munafik. Bukankah lebih baik aku menyembah Allah dengan sepenuh hati? Aku malu. Apa yang harus aku lakukan? Seandainya orang-orang hendak mengangkatku sebagai pengurus masjid aku tidak akan menerimanya. Akhirnya ia melakukan ibadah dengan khusyuk kepada Allah SWT. Pada malam itulah untuk pertama kalinya ia shalat dengan penuh keikhlasan.
Pada keesokan harinya, seperti biasa orang-orang berkumpul di depan masjid. "Hai, lihatlah dinding masjid telah retak-retak," kata mereka. "Kita harus mengangkat seorang pengawas untuk memperbaiki masjid ini."
Maka mereka sepakat yang paling tepat menjadi pengawas masjid adalah Malik. Segera mereka mendatangi Malik yang ketika itu sedang shalat. Sementara Malik sendiri karena saking khusyuknya ia tidak tahu jika beberapa orang sedang menunggunya. Begitu shalat Malik selesai, mereka berkata, "Kami datang untuk memintamu agar sudi menerima pengangkatan kami ini."
"Ya Allah...." seru Malik karena terkejut. "Selama setahun penuh aku menyembah-Mu secara munafik dan tak ada seorang pun yang memandang diriku. Kini setelah aku berikan jiwaku kepada-Mu dan bertekad bahwa aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku, Engkau malah menyuruh 20 orang menghadapku untuk mengalungkan tugas tersebut ke leherku. Demi Kebesaran-Mu, aku tidak menginginkan pengangkatan atas diriku ini."
Malik berlari meninggalkan masjid itu kemudian menyibukkan diri untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjalani hidup prihatin serta penuh disiplin. Ia menjadi seorang yang terhormat dan shalih.


MANFAAT MUHASABAH

Ada beberapa manfaat dan keutamaan muhasabah bagi setiap orang yang beriman yaitu :
1.     Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.
2.     Dalam hal ibadah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hambaNya dan terus memperbaiki diri dan mengetahui hakekat ibadah bahwasannya manfaat hikmah ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Bukan demi kepentingan Allah Ta'ala. Karena kita lah manusia yang lemah dan penuh dosa yang memerlukan akan pengampunan dosa-dosa kita yang banyak.
3.     Mengetahui akan segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.

4.     Membenci hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.

WAKTU MUHASABAH

Muhasabah berarti perlu kita lakukan setiap hari. Mengenai waktunya, Ibnu Qayyim berkata, “Muhasabah itu dilakukan sebelum melakukan perbuatan dan setelah melakukan perbuatan.” Demikian beliau terangkan dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin.
a. Muhasabah sebelum melakukan pekerjaan:
Empat tahap yang perlu diambil semasa melakukan muhasabah sebelum melakukan sesuatu perbuatan;
1.      Jika kita bergerak untuk melakukan sesuatu perbuatan dan berkeinginan melaksanakannya, hendaklah kita berhenti dan merenung serta memikirkan apakah perbuatan tersebut kita sanggup lakukan atau tidak?
2.      Jika tidak sanggup terus kita memberhentikannya. Sekiranya kita sanggup melakukannya hendaklah kita fikirkan adakah melakukan lebih baik daripada meninggalkan atau meninggalkan lebih daripada melakukan.
3.      Jika jawabannya kita sanggup melaksanakannya, kita hendaklah memikirkan apa yang mendorong perbutan itu, adakah keinginan mendapat keridhaan Allah dan pahalaNya atau keinginan mendapat pangkat, pujian dan harta dari manusia?. Jika hanya ingin mendapat piujian dari  manusia, hendaklah membatalkan perbuatan itu supaya tidak terbiasa melakukan sesuatu selain dari Allah dan merasa berat untuk melakukan sesuatu yang bukan karena Allah
4.      Jika jawabannya yang pertama, kita hendaklah berpikir kembali, apakah perbuatan kita akan di bantu dan ada orang yang bersedia membantu, sekiranya perbuatan tersebut memang memerlukan pertolongan. Jika tidak ada yang menolong kita dalam perbuatan tersebut, kita hendaklah berhenti sebagaimana Rasulullah saw menunda jihad di Mekah sehingga beliau mendapat penolong.
b. Muhasabah selepas melakukan pekerjaan:
Ada tiga tahap yang perlu diperhatikan dalam melakukan muhasabah selepas melakukan pekerjaan, yaitu:
Pertama, Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?
Kedua, muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada dilakukan.
Ketiga, muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.
Umar bin Khattab menulis (surat) pada beberapa pejabatnya: “Perhitungkanlah dirimu di waktu senang sebelum datang perhitungan yang berat. Barangsiapa yang menghisab dirinya di waktu senang sebelum perhitungan yang berat, maka ia akan ridha dan mendapat keberuntungan. Sebaliknya, siapa yang kehidupannya melalaikannya dan nafsunya menyibukkannya, maka ia akan menyesal dan mendapat kerugian” (H.R Baihaqi dalam Al- Wahd dan Ibnu ‘Asakir

MAKNA MUHASABAH

Muhasabah berarti introspeksi diri, Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir. Dengan melakasanakan Muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya, dengan penuh perhitungan baik.
Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Dengan memahami makna muhasabah, diharapkan setiap diri akan senantiasa memperbaiki kualitas hidupnya. Kualitas hidup kita dalam bimbungan Islam yaitu Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Rasulullah SAW akan semakin lebih baik dan akhlak kita makin terpuji, dan akan membuat kita menjadi semakin ikhlas, semakin rendah hati dan semakin taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagai apa pun dan di masa apa pun seorang Muslim wajib melakukan muhasabah.

Abu Bakar dan sahabat Nabi yang lainnya benar-benar serius menghisab dirinya. Hal tersebut tidak lain karena hadits Nabi yang berbunyi; “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya, tentang masa mudanya, digunakan untuk apa, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan kemana dihabiskan, dan tentang ilmunya, apa yang dilakukan dengan ilmunya itu.” (HR. Tirmidzi).

SALAM RSUA EDISI 6

Assalamu’alaylum Warahmatullahi Wabarakatuh
Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah wa-asy-hadu allaa ilaaha illallaahu wah-dahu laa syariikalah wa-asy-hadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Rabbishrahli shadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatanmillisaani yafqahu qauli. Laa hawla wallaa quwwata billa billah.
Puji syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan nikmat sehat dan iman juga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW atas cahaya petunjuknya.
Setiap manusia secara fitrahnya diciptakan untuk menjadi hamba Nya dan telah diberikan kepadanya dua pilihan jalan yaitu jalan ketaqwaan atau jalan  kefasikan. Barangsiapa yang senantiasa dalam jalan kebajikan maka beruntunglah ia, dan barangsiapa yang berada di jalan kefasikan, maka merugilah.
Dibutuhkan selalu suatu koreksi atau biasa disebut dengan muhasabah bagi diri masing-masing karena manusia juga disifati lupa oleh Allah SWT, ditambah lagi dengan ujian keduniaan. Hendaknya kita senantiasa mawas diri dalam setiap langkah, berusaha agar selalu berada di jalanNya., dan memohon ampun atas segala khilaf yang disadari ataupun tidak.
Muhasabah terbaik adalah dengan mengingat kematian. Menuju kehidupan yang sebenarmya dengan bekal yang diridlaiNya. Karena kematian adalah pasti dan tidak satupun yang tahu waktu, cara, dan tempatnya.
Wallahua’lam

Kamis, 02 Januari 2014

KISAH MANUSIA PENGHUNI LANGIT

Dialah Uwais Al Qarni. Beliau adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di Yaman bersama ibunya yang sudah tua renta, lumpuh dan buta. Uwais tinggal dengan ibunya karena beliau tidak mempunyai lagi ahli keluarga. Beliau senantiasa merwat ibunya dengan penuh ketulusan dan kasih sayang serta mematuhi seluruh perintah ibunya.
Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, beliau bekerja menggembala kambing dan unta milik orang lain serta mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut. Walaupun upah yang diterimanya hanya cukup untuk kebutuhan dirinya dan ibunya, namun ia tetap sabar dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas apa yang dianugrahkan kepadanya.
Apabila beliau mendapatkan upah yang berlebih, ia tak lupa untuk berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu.
Merawat Ibunya
Uwais juga dikenal sebagai sosok yang ahli ibadah.Dia selalu berpuasa di siang hari dan pada malam harinya ia selalu bermunajat kepada Allah SWT untuk memohon petunjuk dan beristighfar. Meski demikian, pemuda yang hidup semasa dengan Rasulullah SAW ini memiliki kecintaan yang sangat luar biasa kepada Rasulullah.Ia selalu merasa bersedih hati jika mendengar orang-orang yang bercerita tentang pertemuan mereka dengan Baginda Rasul, karena memang dia belum pernah berjumpa sekalipun dengan Nabinya tersebut. Rasa rindu Uwais untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW semakin lama semakin dalam. Beliau ingin sekali memandang wajah Rasulullah SAW dari dekat serta ingin mendengar suaranya. Namun, kecintaannya kepada ibunya juga sangat luar biasa, ia merasa tidak tega untuk meninggalkan ibunyaq untuk bertemu dengan Nabi.Di luar dugaan, si Ibu yang sebenarnya mengetahui cintanya kepada Baginda Nabi, tiba-tiba saja angkat bicara.
"Wahai Uwais anak ibu, Pergilah engkau menemui Rasulullah SAW di rumahnya. Setelah berjumpa, segeralah engkau pulang," kata Ibu Uwais.Mendengar pernyataan ibunya tersebut, Uwais merasa sangat gembira luar biasa dan ia pun segera berkemas, mempersiapkan dirinya untuk pergi ke Madinah menemui Rasulullah SAW. Namun, ia tak lupa menyiapkan segala keperluan ibunya selama ia pergi ke Madinah. Ia selalu berpesan kepada orang-orang terdekatnya agar menjenguk ibunya sepeninggal Uwais ke Madinah.
Menemui Rasulullah SAW
Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, Uwais pun akhirnya tiba di Madinah dan ia pun langsung menuju rumah Rasulullah SAW.Selepas mengucapkan salam, pintu rumah Nabi pun terbuka, namun yang beliau temui hanya Aisyah, sedangkan Rasulullah SAW ketika itu sedang berada di medan perang.
Uwais pun langsung merasa kecewa karena ia ingin segera bertemu Nabi dan segera pulang sebagaiman pesan ibunya.
Akhirnya ia pun memilih untuk segera pulang dan menitipkan pesan untuk Nabi kepada Aisyah.Setelah perang usai, Rasulullah SAW kembali pulang ke Madinah dan ia langsung bertanya kepada Aisyah mengenai orang yang mencari beliau.Belum sempat Aisyah menjawab, Nabi pun bersabda,"Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit." Aisyah pun sangat kaget dengan penuturan Nabi, karena Rasulullah rupanya sudah mengetahui siapa tamu yang ingin bertemu dengannya jauh-jauh hari. Para sahabat tertegun, kemudian Nabi Muhammad SAW meneruskan keterangannya mengenai Uwais yang menjadi salah satu orang yang menghuni langit kepada orang orang-orang yang hadir di situ. Baginda Nabi bersabda,"Jika kamu ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah dia memiliki tanda puith di telapak tangannya." Nabi juga berpesan kepada para sahabat, "Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mohonlah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi." Selepas Rasulullah SAW wafat, Umar dan Ali ra akhirnya bisa berjumpa dengan Uwais. Kemudia mereka berdua memohon doa dan istighfar dari Uwais. Umar juga berjanji untuk menyumbangkan uang dari Baitul Mal kepada Uwais. Namun dengan bijaksana Uwais berkata,
"Hamba mohon, supaya hari ini saja hamba diketahui oleh orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui oleh orang lagi."