Kamis, 09 Januari 2014

WAKTU MUHASABAH

Muhasabah berarti perlu kita lakukan setiap hari. Mengenai waktunya, Ibnu Qayyim berkata, “Muhasabah itu dilakukan sebelum melakukan perbuatan dan setelah melakukan perbuatan.” Demikian beliau terangkan dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin.
a. Muhasabah sebelum melakukan pekerjaan:
Empat tahap yang perlu diambil semasa melakukan muhasabah sebelum melakukan sesuatu perbuatan;
1.      Jika kita bergerak untuk melakukan sesuatu perbuatan dan berkeinginan melaksanakannya, hendaklah kita berhenti dan merenung serta memikirkan apakah perbuatan tersebut kita sanggup lakukan atau tidak?
2.      Jika tidak sanggup terus kita memberhentikannya. Sekiranya kita sanggup melakukannya hendaklah kita fikirkan adakah melakukan lebih baik daripada meninggalkan atau meninggalkan lebih daripada melakukan.
3.      Jika jawabannya kita sanggup melaksanakannya, kita hendaklah memikirkan apa yang mendorong perbutan itu, adakah keinginan mendapat keridhaan Allah dan pahalaNya atau keinginan mendapat pangkat, pujian dan harta dari manusia?. Jika hanya ingin mendapat piujian dari  manusia, hendaklah membatalkan perbuatan itu supaya tidak terbiasa melakukan sesuatu selain dari Allah dan merasa berat untuk melakukan sesuatu yang bukan karena Allah
4.      Jika jawabannya yang pertama, kita hendaklah berpikir kembali, apakah perbuatan kita akan di bantu dan ada orang yang bersedia membantu, sekiranya perbuatan tersebut memang memerlukan pertolongan. Jika tidak ada yang menolong kita dalam perbuatan tersebut, kita hendaklah berhenti sebagaimana Rasulullah saw menunda jihad di Mekah sehingga beliau mendapat penolong.
b. Muhasabah selepas melakukan pekerjaan:
Ada tiga tahap yang perlu diperhatikan dalam melakukan muhasabah selepas melakukan pekerjaan, yaitu:
Pertama, Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?
Kedua, muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada dilakukan.
Ketiga, muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.
Umar bin Khattab menulis (surat) pada beberapa pejabatnya: “Perhitungkanlah dirimu di waktu senang sebelum datang perhitungan yang berat. Barangsiapa yang menghisab dirinya di waktu senang sebelum perhitungan yang berat, maka ia akan ridha dan mendapat keberuntungan. Sebaliknya, siapa yang kehidupannya melalaikannya dan nafsunya menyibukkannya, maka ia akan menyesal dan mendapat kerugian” (H.R Baihaqi dalam Al- Wahd dan Ibnu ‘Asakir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar