Muhasabah berarti perlu kita lakukan setiap hari. Mengenai waktunya,
Ibnu Qayyim berkata, “Muhasabah itu dilakukan sebelum melakukan perbuatan dan
setelah melakukan perbuatan.” Demikian beliau terangkan dalam kitabnya Mukhtashar
Minhajul Qashidin.
a. Muhasabah sebelum melakukan pekerjaan:
Empat tahap yang perlu diambil semasa melakukan muhasabah sebelum
melakukan sesuatu perbuatan;
1. Jika kita bergerak untuk melakukan sesuatu perbuatan
dan berkeinginan melaksanakannya, hendaklah kita berhenti dan merenung serta
memikirkan apakah perbuatan tersebut kita sanggup lakukan atau tidak?
2. Jika tidak sanggup terus kita memberhentikannya.
Sekiranya kita sanggup melakukannya hendaklah kita fikirkan adakah melakukan
lebih baik daripada meninggalkan atau meninggalkan lebih daripada melakukan.
3. Jika jawabannya kita sanggup melaksanakannya, kita
hendaklah memikirkan apa yang mendorong perbutan itu, adakah keinginan mendapat
keridhaan Allah dan pahalaNya atau keinginan mendapat pangkat, pujian dan harta
dari manusia?. Jika hanya ingin mendapat piujian dari manusia, hendaklah membatalkan perbuatan itu
supaya tidak terbiasa melakukan sesuatu selain dari Allah dan merasa berat
untuk melakukan sesuatu yang bukan karena Allah
4. Jika jawabannya yang pertama, kita hendaklah berpikir
kembali, apakah perbuatan kita akan di bantu dan ada orang yang bersedia
membantu, sekiranya perbuatan tersebut memang memerlukan pertolongan. Jika
tidak ada yang menolong kita dalam perbuatan tersebut, kita hendaklah berhenti
sebagaimana Rasulullah saw menunda jihad di Mekah sehingga beliau mendapat
penolong.
b. Muhasabah selepas melakukan pekerjaan:
Ada tiga tahap yang perlu diperhatikan dalam melakukan
muhasabah selepas melakukan pekerjaan, yaitu:
Pertama,
Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum sepenuhnya ia
lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan ketaatan pada Allah
sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?
Kedua,
muhasabah atas setiap perbuatan yang apabila ditinggalkan lebih baik daripada
dilakukan.
Ketiga,
muhasabah atas perbuatan yang mubah yang tidak dilakukannya.
Umar bin Khattab menulis (surat) pada beberapa
pejabatnya: “Perhitungkanlah dirimu di waktu senang sebelum datang perhitungan
yang berat. Barangsiapa yang menghisab dirinya di waktu senang sebelum
perhitungan yang berat, maka ia akan ridha dan mendapat keberuntungan.
Sebaliknya, siapa yang kehidupannya melalaikannya dan nafsunya menyibukkannya,
maka ia akan menyesal dan mendapat kerugian” (H.R Baihaqi dalam Al- Wahd dan Ibnu ‘Asakir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar