IKLAS
UNTUK ALLAH TAALA
Para
ulama menjelaskan ikhlas dengan beberapa pengertian, namun sebenarnya
hakikatnya sama.
Abul
Qosim Al Qusyairi mengatakan, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah
dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam
rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin
mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk atau yang dilakukan bukanlah
di luar mendekatkan diri pada Allah.”
Jika
kita sedang melakukan suatu amalan maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin
mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah saja yang memuji amalan kebajikan
kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridho Allah, bukan komentar dan pujian
manusia.
Hudzaifah
Al Mar’asiy mengatakan, “Ikhlas adalah kesamaan perbuatan seorang hamba antara
zhohir (lahiriyah) dan batin.” Berkebalikan dengan riya'. Riya’ adalah amalan
zhohir (yang tampak) lebih baik dari amalan batin yang tidak ditampakkan.
Sedangkan ikhlas, minimalnya adalah sama antara lahiriyah dan batin
Ikhlas
berarti menyengajakan suatu perbuatan karena Allah dan mengharapkan ridlaNya
serta memurnikan dari segala macam kotoran dan godaan seperti keinginan
terhadap popularitas, simpati orang lain, kemewahan, kedudukan, harta, dan
pemuasan hawa nafsu dan penyakit hati lainnya. Hal ini sesuai dengan surah Al
An’ am ayat 162-163 :
“
Katakanlah : “ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama– tama menyerahkan diri
(kepada Allah)”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar