Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Sesungguhnya seseorang
akan mendapatkan anugerah -balasan dari Allah- sebatas apa yang dia niatkan.”
(lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7 oleh Imam an-Nawawi)
Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah menjelaskan, “Ikhlas adalah
menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat melakukan ketaatan, yaitu dia
berniat dengan ketaatannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.
Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal mencari kedudukan di hadapan manusia,
mengejar pujian orang-orang, gandrung terhadap sanjungan, atau tujuan apapun
selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-’Alim wa
al-Muta’allim, hal. 8)
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, ada dua buah pertanyaan
yang semestinya diajukan kepada diri kita sebelum mengerjakan suatu amalan.
Yaitu: Untuk siapa? dan Bagaimana? Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang
keikhlasan. Pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang kesetiaan terhadap
tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal tidak akan diterima
jika tidak memenuhi kedua-duanya (lihat Ighatsat al-Lahfan, hal. 113)
Seorang lelaki
berkata kepada Muhammad bin Nadhr rahimahullah, “Dimanakah aku bisa beribadah
kepada Allah?” Maka beliau menjawab, “Perbaikilah hatimu, dan beribadahlah
kepada-Nya di mana pun kamu berada.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 594)
Abu Turab
rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba bersikap tulus/jujur dalam
amalannya niscaya dia akan bisa merasakan kelezatan amal itu sebelum
melakukannya. Dan apabila seorang hamba ikhlas dalam beramal, niscaya dia akan
merasakan kelezatan amal itu di saat sedang melakukannya.” (lihat Ta’thir
al-Anfas, hal. 594)
Sufyan bin Uyainah
rahimahullah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah
kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan
kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
al-Fudhail bin ‘Iyadh
rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’
sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan.
Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.”
(lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar