Assalamu’alaykum Warahmatullah Wabarakatuh
Alhamdulillaahi
nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min
sayyiaati a’maalinaa may yahdillaahu falaa mudhillalahu wa may yudh-lil falaa
haa diyalah , Asyhadu allaa ilaaha illaloohu wahdahu laa syariikalah, wa
asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosuuluhu laa nabiyya ba’dah. Allahumma
sholli wasallim wa baarik ‘ala muhammadin wa ‘ala aaalihi wa ash-haabihi
ajma’iin,
Al-Quran dan Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam
sudah mengatur sejak awal bagaimana seharusnya kita memilih dan menjadi seorang
pemimpin. Kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar kontrak sosial
antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi merupakan ikatan perjanjian
antara dia dengan Allah swt. Lihat Q. S. Al-Baqarah (2): 124, "Dan ingatlah
ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan
(amanat), lalu Ibrahim melaksanakannya dengan baik. Allah berfirman:
Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau pemimpin bagi manusia. Ibrahim
bertanya: Dan dari keturunanku juga (dijadikan pemimpin)? Allah swt menjawab:
Janji (amanat)Ku ini tidak (berhak) diperoleh orang zalim"
Dengan mengetahui hakikat
kepemimpinan di dalam Islam serta kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus
dimiliki oleh seorang pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai
dengan petunjuk Al-Quran dan Hadits. Kaum muslimin yang benar-benar beriman
kepada Allah dan beriman
kepada Rasulullah saw dilarang keras untuk memilih pemimpin yang
tidak memiliki kepedulian dengan urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau
seseorang yang menjadikan agama sebagai
bahan permainan/kepentingan tertentu. Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan
seseorang pemimpin akan dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya
(masyarakat tersebut). Wallahu’alam Bishshowab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar