Selama perjalanan, banyak sekali hikmah dan keajaiban yang dilalui Nabi
Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya Nabi shallallâhu
‘alaihi wa sallam dilewatkan pada Thur Sina’, sebuah lembah di Syam,
tempat dimana Nabi Musa berbicara dengan Allâh Subhânahu wa
Ta’âlâ, beliau pun shalat di tempat itu. Kemudian melihat Ifrit dari bangsa
Jin yang mengejar beliau dengan semburan api, namun Rasûlullâh shallallâhu
‘alaihi wa sallampun dapat melaluinya. Perjalanan dilanjutkan kembali,
Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dikejutkan dengan bau
wangi yang semerbak, itulah semerbak wangi yang terpancar dari kuburan
Masyithah yang teguh mempertahankan aqidahnya melawan raja fir’aun. Ketika
beliau melanjutkan perjalanan, tiba-tiba seseorang memanggil beliau dari arah
kanan: “Wahai Muhammad, aku meminta kepadamu agar kamu melihat aku”,tapi
Rasulullah tidak memperdulikannya.. Kemudian Jibril menjelaskan bahwa itu
adalah panggilan Yahudi, seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat
beliau akan menjadi Yahudi. Begitu pula beliau mendapat seruan serupa dari
sebelah kirinya, yang tidak lain adalah panggilan Nashrani, namun Nabi tidak
menjawabnya. Selanjutnya, muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala
perhiasan di tangannya dan seluruh tubuhnya, dia berkata: “Wahai
Muhammad lihatlah kepadaku”, tapi Rasûlullâh tidak menoleh kepadanya,
Jibril berkata:“Wahai Nabi, itu adalah dunia, seandainya anda menjawab
panggilannya maka umatmu akan lebih memilih dunia daripada akhirat”.
Perjalanan isra’ pun
berujung pada Masjidil Aqsha, perjalanan ini untuk kemudian Allâh
dokumentasikan pada surah al-Isrâ’ [17]: 1.
Setelah
perjalanan isra’ ini, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun
bersiap-siap melanjutkan perjalanan yang tak kalah menakjubkan dari perjalanan
sebelumnya, yakni perjalanan untuk menghadap Allah SWT di Sidratul
Muntaha. Perjalanan jauh menembus langit dan hanya dilakukan dalam waktu
kurang dari semalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar