Seorang Mukmin
dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam
hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan
membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan
keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun
ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik
baginya.
Dengan keyakinannya ini pula Allâh
Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan
dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:
Tidak ada sesuatu
musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa
yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam)
hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs
at-Taghâbun/64:11)
Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh
berkata:“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa
musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia
bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan)
tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala
akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang
menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa
jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang
lebih baik baginya.”
Ketahuilah, Allah tidak
sesekali menimpakan ujian kecuali sesuai kemampuan hambaNya. “Allah tidak
membebani seseorang kecuali dengan apa yang dia mampu.” (Al-Baqarah: 286). Allah
juga berfirman, “Tiada satu musibah yang menimpa di bumi dan dirimu melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sungguh
demikian itu mudah bagi Allah, supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang
hilang darimu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang
diberikanNya kepadamu. (Al-Hadid: 22-23)
Nabi SAW bersabda dalam hadis qudsi:
“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jika engkau bersabar dan mengharap
pahala sejak awal tertimpa musibah maka Aku tidak rela memberi pahala untukmu
selain Syurga.” (Hasan. Riwayat Ibnu Majah)
Jika dibanding
ujian yang kita hadapi, tidaklah ia lebih berat dari apa yang menimpa umat
Islam terdahulu, yang digergaji kepalanya hingga terbelah dua, disikat badannya
dengan sikat besi sehingga nampak tulangnya, Hendaklah kita bersyukur selama
mana ujian itu tidak menimpa agama dan tidak membuat kita berburuk sangka
kepada ALLAH. Sabda Rasulullah, “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
berbaik sangka kepada Allah.” (Riwayat Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar