
“Haji, Idul
Adha dan RSUA”
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillâhi Rabbi
al-âlamîn, segala puji marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan
semesta alam, bahwa dengan perkenannya baru saja kita menyaksikan dan
melewati kegiatan haji disusul dengan memperingati hari Idul Adha yang
telah dilaksanakan di RSUA.
Dengan suara takbir
yang meggema dalam menyongsong hari raya Idul Qurban, seyogianya kita
sejenak memikirkan kembali, bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak
untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam
semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi besar sepanjang zaman, Rasulullah
Muhammad SAW, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang
senantiasa menaati ajarannya untuk kebajikan umat di bumi ini.
Sebagaimana kita
ketahui, RSUA adalah institusi pelayanan kesehatan yang merawat pasien
secara paripurna. Semua fasilitas, dan tenaga di RSUA digerakkan,
diarahkan dan dimanfaatkan agar RSUA mencapai tujuan yang superior, yaitu
menjadi rumah sakit pendidikan terkemuka.
Untuk mencapai tujuan
RSUA yang superior perlu didukung pula oleh dua pilar utama, yaitu tanggung
jawab superior dan komitmen superior. Tanggung jawab superior dapat
diartikan, bahwa seseorang bersedia berkarya melampaui batas-batas tugas
pokoknya, dengan penuh keihlasan, tanpa pamrih. Sedang komitmen dapat
dimaknai sebagai pengorbanan kita untuk kepentingan yang lebih
besar guna menuju dan mencapai apa yang kita cita2kan.
Jadi komitmen di
RSUA dapat dianalogikan dengan kisah perintah Allah SWT, kepada Nabi Ibrahim
yang harus menyembelih putra tercintanya yakni Nabi Ismail.
Kita harus mampu menghayati makna
kunci nan hakiki dari pesan yang disampaikan secara tekstual menjadi
pesan yang kontekstual. Haji dan
hari Idul Qurban, harus dapat
disimbolkan dan dianalogikan dengan kehidupan nyata kita sehari-hari di RSUA. Membangun dan mengembangkan RSUA untuk
mencapai tujuan superior, yaitu
agar RSUA dapat sejajar dengan rumah sakit lain di Surabaya butuh komitmen dan
pengorbanan yang luar biasa.
Pengorbanan yang kita persembahkan
kepada RSUA itulah “Ismail”yang ada di diri kita, yaitu “kepemillikan kita yang kita
cintai “ yang harus dikorbankan dan dipersembahkan dengan keihlasan
total, layaknya Nabi
Ibrahim mengorbankan putranya yang sangat dicintai. Lantas “Ismail” yang
ada di diri kita yang harus kita korbankan itu apa? Yang jelas kita harus siap berkorban
untuk mengikuti perintah mewujudkan visi kita dalam membangun RSUA, yaitu mengorbankan ego kita, mengorbankan kenyamanan kita, mengorbankan kepentingan diri sendiri
demi kepentingan yang lebih basar, mengorbanka waktu kita, mungkin juga mengorbankan uang kita, energy kita, dan lain – lain.
Dengan mengorbankan apa yang kita cintai sebagai kepemilikan kita demi
visi RSUA, maka pada hakekatnya kita telah bekarya di RSUA dengan penuh loyalitas,
dan dedikasi untuk menghasilkan prestasi yang tinggi. Sama halnya
dengan penuh kepatuhan dan penuh loyalitas Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Mengganti hewan, ketika Nabi Ibrahim
hendak menyembelih Nabi Ismail, maka
itu menggambarkan betapa luar biasa Allah SWT menghargai manusia, dengan jiwa raganya. Hal ini dapat kita analogikan, dalam kita berkarya di RSUA sebagai
“caring profession”, harus
dilakuan dengan sepenuh hati, penuh rasa manusiawai, penuh penghargaan atas martabat
manusia, jiwa raganya dan kita berusaha sekuat tenaga agar pasien kita dapat
terhindar dari kematian.
Membagi daging korban kesesama saudara
adalah mengambarkan kesolehan sosial kita yang dapat menjadi panutan dalam
merawat pasien. Selain itu ibadah haji yang merupakan
kesinambungan ibadah Idul Qurban, adalah sarana dan kesempatan yang
disediakan oleh Allah SWT, agar kita dapat saling bersailaturahim, saling
mengenal siapun hamba Allah yang mulia ini dan tidak membedakakan manusia didunia
ini, dari aspek pangkat, jabatan, kaya miskin, dsb.
Hal ini dapat kita simbolkan, bahwa
dalam berkarya di RSUA sebagai “helping profession”, maka dalam kita
merawat pasien dan berinteraksi dengan keluarganya kita tidak boleh
membedakan pasien dalam aspek pangkat, jabatan, kedudukan, kaya miskin,
dsb, dan harus diperlakukan sama sebagai wujud kesolahen sosial kita dalam
perspektif pelayanan kemanusiaan.
Demikinlah sekelumit gambaran ibadah
agama Islam dapat dipakai secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari
kita, khususnya dalam berkarya di
RSUA.
Kami meyambut baik terbitnya “Buletinn Sålam”
yang semoga isinya dapat dirasakan sebagai penawar dahaga dan pencerahan jiwa,
batin dan hati kita dalam bekarya di RSUA yang kita cintai ini. Semoga Allah
SWT meridloi kegiatan mulia ini.
Wassalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Muh. Dikman Angsar
Pembina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar