Rabu, 23 Oktober 2013


“Haji, Idul Adha dan RSUA”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan semesta alam, bahwa dengan perkenannya baru saja kita  menyaksikan dan melewati kegiatan haji disusul dengan memperingati hari Idul Adha  yang telah dilaksanakan di RSUA.
Dengan suara takbir yang meggema dalam menyongsong hari raya Idul Qurban, seyogianya kita  sejenak memikirkan kembali, bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi besar sepanjang zaman, Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang senantiasa menaati ajarannya  untuk kebajikan umat di bumi ini.
Sebagaimana kita ketahui, RSUA adalah institusi pelayanan kesehatan yang merawat pasien  secara  paripurna. Semua fasilitas, dan tenaga di RSUA digerakkan, diarahkan dan dimanfaatkan agar RSUA mencapai tujuan  yang superior, yaitu menjadi rumah sakit pendidikan terkemuka.
Untuk mencapai tujuan RSUA yang superior perlu didukung pula oleh dua pilar utama, yaitu tanggung jawab superior dan  komitmen superior. Tanggung jawab superior dapat diartikan, bahwa seseorang bersedia  berkarya melampaui batas-batas tugas pokoknya, dengan penuh keihlasan, tanpa pamrih. Sedang komitmen dapat dimaknai  sebagai  pengorbanan kita untuk kepentingan yang lebih besar guna menuju  dan mencapai apa yang kita cita2kan.
Jadi komitmen di RSUA dapat dianalogikan dengan kisah perintah Allah SWT, kepada Nabi Ibrahim yang harus menyembelih  putra tercintanya yakni Nabi Ismail.
Kita harus mampu menghayati  makna kunci nan hakiki dari  pesan yang disampaikan secara tekstual menjadi pesan yang kontekstual. Haji dan hari Idul Qurban, harus dapat disimbolkan dan dianalogikan dengan kehidupan nyata kita sehari-hari di RSUA. Membangun dan mengembangkan RSUA untuk mencapai tujuan superior, yaitu agar RSUA dapat sejajar dengan rumah sakit lain di Surabaya butuh komitmen dan pengorbanan yang luar biasa.
Pengorbanan yang kita persembahkan kepada  RSUA itulah “Ismail”yang ada di diri kita, yaitu “kepemillikan kita yang kita cintai “ yang harus dikorbankan  dan dipersembahkan  dengan keihlasan total, layaknya Nabi Ibrahim  mengorbankan putranya yang sangat dicintai. Lantas “Ismail” yang ada di diri kita yang harus kita korbankan itu apa? Yang jelas kita harus siap berkorban untuk mengikuti perintah mewujudkan visi kita dalam membangun RSUA, yaitu mengorbankan ego kita, mengorbankan kenyamanan  kita, mengorbankan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih basar, mengorbanka waktu kita, mungkin juga mengorbankan uang kita, energy kita, dan lain – lain. Dengan mengorbankan apa  yang kita cintai sebagai kepemilikan kita demi visi RSUA, maka pada hakekatnya kita telah bekarya di RSUA dengan penuh  loyalitas, dan dedikasi untuk   menghasilkan prestasi yang tinggi. Sama halnya dengan penuh kepatuhan dan penuh loyalitas Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail  dalam menjalankan perintah Allah SWT.
Mengganti hewan, ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Nabi Ismail, maka itu menggambarkan betapa luar biasa Allah SWT menghargai manusia, dengan jiwa raganya. Hal ini  dapat kita analogikan, dalam kita berkarya di RSUA sebagai “caring profession”, harus dilakuan dengan sepenuh hati, penuh rasa  manusiawai, penuh penghargaan atas martabat manusia, jiwa raganya  dan kita berusaha sekuat tenaga agar pasien kita dapat terhindar dari kematian.
Membagi daging korban kesesama saudara adalah mengambarkan kesolehan sosial kita yang dapat menjadi panutan dalam merawat pasien. Selain itu ibadah haji  yang merupakan kesinambungan ibadah  Idul Qurban, adalah sarana dan kesempatan yang disediakan oleh Allah SWT, agar kita dapat saling bersailaturahim, saling mengenal siapun hamba Allah yang mulia ini dan tidak membedakakan manusia didunia ini, dari aspek pangkat, jabatan, kaya miskin, dsb.
Hal ini  dapat kita simbolkan, bahwa dalam berkarya di RSUA sebagai “helping  profession”, maka dalam kita merawat pasien dan berinteraksi dengan keluarganya kita  tidak boleh membedakan  pasien dalam aspek pangkat, jabatan, kedudukan, kaya miskin, dsb, dan harus diperlakukan sama sebagai wujud kesolahen sosial kita dalam perspektif pelayanan kemanusiaan.
Demikinlah sekelumit gambaran ibadah agama Islam dapat dipakai secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari  kita, khususnya dalam berkarya di RSUA.
Kami meyambut baik terbitnya “Buletinn Sålam” yang semoga isinya dapat dirasakan sebagai penawar dahaga dan pencerahan jiwa, batin dan hati kita dalam bekarya di RSUA yang kita cintai ini. Semoga Allah SWT meridloi kegiatan mulia ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Muh. Dikman Angsar

           Pembina







Tidak ada komentar:

Posting Komentar