Minggu, 15 Februari 2015

AMALIYAH SEDEKAH



1.    Sedekah yang manfaatnya untuk diri sendiri
"Bukankah Allah swt telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang kalian bersedekah dengannya? Sesungguhnya, setiap tasbih sedekah, Setiap takbir, sedekah. Setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) sedekah, dan setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) sedekah."
Termasuk dalam hal ini adalah istighfar (ucapan astaghfirullah) dan dzikir-dzikir lainnya. Walaupun tidak disebut dalam hadits di atas, namun ia termasuk dalam kategori al-dzikr (dzikir).
2.    Sedekah yang manfaatnya untuk orang lain
1)      Amar ma'ruf, Nahi munkar
2)      Mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
3)      Menghilangkan dan menghindarkan segala hal yang mengakibatkan bahaya.
4)      Mendo'akan sesama umat Islam.
3.    Sedekah yang Utama
Kondisi sehat dan cinta terhadap harta, bisa menjadi penghambat seseorang untuk mengeluarkan sedekahnya.
Pada satu kesempatan, Rasulullah SAW ditanya seseorang sahabatnya tentang sedekah yang paling utama. Kata beliau, ''Engkau menyedekahkan harta itu pada saat engkau dalam keadaan sehat dan di kala engkau benar−benar menginginkan harta tersebut saat itu.'' (HR Abu Dawud).
4.    Sedekahlah Dari Apa Yang Terbaik
“Wahai orang-orang yang beriman! Belanjakanlah (pada jalan Allah) sebahagian dari hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu sengaja memilih yang buruk daripadanya (lalu kamu dermakan atau kamu jadikan pemberian zakat), padahal kamu sendiri tidak sekali-kali akan mengambil yang buruk itu (kalau diberikan kepada kamu), kecuali dengan memejamkan mata padanya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Kaya, lagi sentiasa Terpuji.” (Al-Baqarah: 267)
5.    Larangan Mengungkit-Ungkit Apa Yang Disedekahkan
“Wahai orang-orang yang beriman! Jangan rosakkan (pahala amal) sedekah kamu dengan perkataan membangkit-bangkit dan (kelakuan yang) menyakiti, seperti (rosaknya pahala amal sedekah) orang yang membelanjakan hartanya kerana hendak menunjuk-nunjuk kepada manusia (riak), dan ia pula tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat. Maka bandingan orang itu ialah seperti batu licin yang ada tanah di atasnya, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ditinggalkannya bersih licin (tidak bertanah lagi). (Demikianlah juga halnya orang-orang yang kafir dan riak itu) mereka tidak akan mendapat sesuatu (pahala) pun dari apa yang mereka usahakan. Dan (ingatlah), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (Al-Baqarah: 264)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar