Minggu, 06 April 2014

MEMILIH PEMIMPIN

Sebagaimana manusia pada umumnya, begitu pula para pemimpin kita. Bila kita sepakat bahwa tiada seorang pun manusia yang tidak punya dosa, tidak pernah lalai, dan tidak sekali pun bersalah, maka begitu pulalah pemimpin-pemimpin kita. Pasti mereka punya salah. Kalau pun tidak, pasti pernah tersalah. Alangkah tidak manusiawinya bila kita membandingkan mereka dengan para malaikat yang tidak pernah tersalah dan bersalah. Kita sama-sama manusia. Sama-sama merasakan bagaimana arus kehidupan ini. Bila kita menganggap bahwa siapa pun orangnya yang ingin menjadi pemimpin harus suci, berarti kita telah merasa sempurna dan suci. Perhatikanlah jawaban Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanyai mengenai hal yang hampir sama..
Suatu saat, datang kepadanya seorang pemuda. Kemudian bertanya, “Wahai Imam, apakah yang seharusnya aku lakukan; menyempurnakan diri dulu baru berdakwah, atau mulai berdakwah sejak sekarang?”
Bila kita menghabiskan waktu untuk menunggu lahirnya manusia sempurna, maka kita tidak akan pernah memiliki pemimpin, di negara kita tidak akan pernah ada orang yang menyeru ke jalan Allah. Sekali lagi, sebab kesempurnaan bagi manusia adalah hal yang mustahil!
Alangkah buruknya sikap kita, bila saat ini kita mencela seseorang kemudian berusaha membesar-besarkan perkara tentangnya. Setiap orang pasti punya kekurangan. Namun, cara masing-masing orang bersikap terhadap kekurangan itu berbeda-beda.
Ada yang berusaha untuk memperbaiki dirinya dan terus berhati-hati. Ia menjalankan tugasnya sebaik-baiknya. Ia beriman pada Allah. Takut pada Allah. Selalu memohon ampun atas segala dosanya. Tidak hanya itu, yang ia perjuangkan itu pun adalah amal-amal untuk menegakkan kalimat Allah. Menumpas kejahatan. Memusnahkan kezhaliman
Wallahu a’lam Bishshowab (dakwatuna.com)

1 komentar:

  1. https://www.facebook.com/notes/kisah-kisah-teladan-islami-penuh-hikmah/umar-bin-khattab-dan-seorang-yahudi-tua/174861642567762

    BalasHapus