Sebagaimana manusia pada umumnya, begitu pula para
pemimpin kita. Bila kita sepakat bahwa tiada seorang pun manusia yang tidak
punya dosa, tidak pernah lalai, dan tidak sekali pun bersalah, maka begitu
pulalah pemimpin-pemimpin kita. Pasti mereka punya salah. Kalau pun tidak,
pasti pernah tersalah. Alangkah tidak manusiawinya bila kita membandingkan
mereka dengan para malaikat yang tidak pernah tersalah dan bersalah. Kita
sama-sama manusia. Sama-sama merasakan bagaimana arus kehidupan ini. Bila kita
menganggap bahwa siapa pun orangnya yang ingin menjadi pemimpin harus suci,
berarti kita telah merasa sempurna dan suci. Perhatikanlah jawaban Imam Ahmad
bin Hanbal ketika ditanyai mengenai hal yang hampir sama..
Suatu
saat, datang kepadanya seorang pemuda. Kemudian bertanya, “Wahai Imam, apakah
yang seharusnya aku lakukan; menyempurnakan diri dulu baru berdakwah, atau
mulai berdakwah sejak sekarang?”
Bila
kita menghabiskan waktu untuk menunggu lahirnya manusia sempurna, maka kita
tidak akan pernah memiliki pemimpin, di negara kita tidak akan pernah ada orang
yang menyeru ke jalan Allah. Sekali lagi, sebab kesempurnaan bagi manusia
adalah hal yang mustahil!
Alangkah buruknya sikap kita, bila saat ini kita
mencela seseorang kemudian berusaha membesar-besarkan perkara tentangnya.
Setiap orang pasti punya kekurangan. Namun, cara masing-masing orang bersikap
terhadap kekurangan itu berbeda-beda.
Ada
yang berusaha untuk memperbaiki dirinya dan terus berhati-hati. Ia menjalankan
tugasnya sebaik-baiknya. Ia beriman pada Allah. Takut pada Allah. Selalu
memohon ampun atas segala dosanya. Tidak hanya itu, yang ia perjuangkan itu pun
adalah amal-amal untuk menegakkan kalimat Allah. Menumpas kejahatan.
Memusnahkan kezhaliman
Wallahu a’lam Bishshowab (dakwatuna.com)
https://www.facebook.com/notes/kisah-kisah-teladan-islami-penuh-hikmah/umar-bin-khattab-dan-seorang-yahudi-tua/174861642567762
BalasHapus